Anomali Hujan di Bulan Juni, Ini Penjelasan Peneliti Lapan
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 23 Jun 2021
- visibility 5.238
- comment 0 komentar

Pengendara sepeda motor menerjang hujan melintasi Tugu Lawet Kebumen. (Foto: Padmo)
JAKARTA (KebumenUpdate.com) – Bulan Juni biasanya sudah memasuki musim kemarau. Namun beberapa hari belakangan hujan berintensitas tinggi masih mengguyur wilayah barat Indonesia tak terkecuali di Kabupaten Kebumen.
Ternyata penyebab hujan yang masih sering turun sejak awal Juni menurut peneliti Klimatologi di Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Erma Yulihastin, karena pengaruh dinamika laut-atmosfer yang terjadi di Samudera Hindia.
1. Kemarau Cenderung Basah Juli-Oktober
Dia menunjuk pembentukan pusat tekanan rendah berupa pusaran angin yang dinamakan vorteks di selatan ekuator, dekat pesisir barat Sumatera dan Jawa. Erma memprediksi pembentukan vorteks yang sangat intensif sejak awal Juni bertahan sepanjang periode musim kemarau.
“Sehingga berpotensi menimbulkan anomali musim kemarau yang cenderung basah sepanjang Juli-Oktober pada tahun ini,” tuturnya seperti dilansir lapan.go.id.
Menurut Erma, penghangatan suhu permukaan laut di Samudera Hindia barat Sumatera juga merupakan bagian dari feedback response terhadap kondisi di Samudera Pasifik. Fenomena La Nina masih terjadi di samudera itu sekalipun melemah dan cenderung menuju kondisi netral.
2. Suhu Permukaan Laut Lokal Sebabkan Anomali
Dipole Mode negatif diprediksi hanya berlangsung secara singkat, yaitu Juli-Agustus. Meskipun demikian, eksistensi vorteks dan penghangatan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia diprediksi akan terus berlangsung hingga Oktober.
Gabungan vorteks di Samudera Hindia dan anomali suhu permukaan laut lokal ini merupakan faktor pembangkit yang menyebabkan anomali musim kemarau cenderung basah pada tahun ini terutama di wilayah Indonesia bagian selatan (Jawa hingga Nusa Tenggara Timur) dan timur laut (Maluku, Sulawesi, Halmahera).
Nah, penyebab seringnya hujan akhir-akhir ini sudah jelas, bukan?
3. Peringatan Dini Cuaca Jawa Tengah
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini cuaca Jawa Tengah Rabu 23 Juni 2021 pukul 18:45 wib berpotensi terjadi hujan sedang-lebat pada pukul 18:55 wib.
Kabupaten Cilacap: Cilacap Tengah, Cilacap Utara,
Kabupaten Purworejo: Grabag,
Kabupaten Wonogiri: Purwantoro, Slogohimo, Jatipurno,
Kabupaten Demak: Karangawen,
Kabupaten Batang: Subah, dan sekitarnya.
Dapat meluas ke wilayah Kabupaten Kebumen: Mirit, Ambal, Buluspesantren, Bonorowo.
Kabupaten Cilacap: Maos, Jeruklegi, Kawunganten, Sampang, Kesugihan, Adipala, Binangun, Nusawungu, Kroya, Cilacap Selatan, Kampung Laut.
Kabupaten Purworejo: Butuh, Ngombol, Purwodadi, Kutoarjo.
Kabupaten Wonogiri: Sidoharjo, Jatiroto, Pracimantoro, Giritontro, Kismantoro, Bulukerto, Jatisrono, Girimarto, Paranggupito, Puhpelem.
Kabupaten Boyolali: Ngemplak.
Kabupaten Sukoharjo: Mojolaban.
Kabupaten Karanganyar: Jatiyoso, Tawangmangu, Tasikmadu, Jaten, Gondangrejo, Kebakkramat, Mojogedang.
Kabupaten Sragen: Kalijambe, Plupuh, Masaran.
Kabupaten Grobogan: Tegowanu, Tanggungharjo.
Kabupaten Demak: Mranggen.
Kabupaten Semarang: Bergas, Pringapus, Ungaran Barat, Ungaran Timur.
Kabupaten Batang: Wonotunggal, Bandar, Reban, Limpung, Tulis, Batang, Kandeman, Pecalungan, Banyuputih.
Kota Surakarta: Jebres, Banjarsari, dan sekitarnya. (lapan/bmkg)







Saat ini belum ada komentar