Pesantren Al Huda Jatis 143 Tahun Pertahankan Tradisi Salaf, Bermula Dari Anak Petani
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 1 Apr 2023
- visibility 7.288
- comment 0 komentar

Peringatan hari santri nasional di Pondok Pesantren Al Huda Jetis. (Foto: alhudajetis.com)
Untuk kelompok remaja, ada santri yang khusus belajar ilmu agama di pesantren namun ada pula santri yang belajar ilmu agama di pesantren dan belajar ilmu umum seperti di SMP/MTs, SMA/MA/SMK termasuk mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi.
Ada pula santri tua yang mengikuti jamaah Thoriqoh An Naqsabandiyyah Al Kholidiyyah. Jumlah jamaah thoriqoh tersebut sudah mencapai puluan ribu jamaah yang berasal dari Kebumen dan sekitarnya. Pengajian jemaah ini digelar setiap Selasa.
“Penekanannya pada taubat diri dengan mengalahkan nafsu hati, agar dalam beribadat lebih dekat dengan Allah,” ujar KH Wahib Machfudz seperti dilansir dari Suara Merdeka.
Khusus Ramadhan banyak juga santri sepuh yang ikut mondok di pesantren. Ada yang hanya 10 hari namun ada yang sampai 20 hari. Mereka mengikuti setiap pengajian yang digelar di lingkungan pesantren.
Sejarah Pondok Pesantren Al Huda Jetis

Para santri mengikuti sholawatan. (Foto: alhudajetis.com)
Sejarah berdirinya Pesantren Al-Huda tidak bisa dilepaskan atas peran KH Abdurrohman, sang pendiri pondok. Ulama yang semasa bernama kecil Solihin itu merupakan anak seorang petani biasa. Namun saat remaja dia pergi menuntut ilmu Makkah, belajar ilmu tashawwuf pada Syaikh Sulaiman Zuhdhi di Jabal Qubais.
Sepulangnya dari Makkah dia menyebarkan ilmu. Dia curigai Belanda sebagai pemberontak karena dalam setiap melakukan kegiatan belajar mengajar beliau dan santrinya selalu menutup pintu. Akhirnya dia ditangkap dan diintrogasi.








Saat ini belum ada komentar