Tuntaskan Program Edukasi Sekolah Bumi, Peserta Kunjungi Hutan Mangrove Ayah dan Gua Jatijajar
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Ming, 4 Agu 2024
- visibility 7.263
- comment 0 komentar

Peserta sekolah bumi di KEE Lahan Basah Mangrove Muara Kali Ijo. (Foto: Hari)
Termasuk dengan keberadaan beberapa jenis satwa burung seperti burung hantu, walet, raja udang biru, deruk, pecuk ular, dan elang laut serta lainnya.
“Elang laut dapat dijumpai di sini ketika mencari makan. Karena habitat aslinya bukan di sini. Biasanya habitat elang laut di sekitar Kawasan Bentang Alam Karst Gombong Selatan,” lanjutnya.
Baca juga: Tim Asesor Selesaikan Validasi, Penilaian Geopark Kebumen Sudah 60%, 40% Sisanya Hasil Sidang UNESCO

Foto bersama dengan latar belakang KBAK (Kawasan Bentang Alam Karst) Gombong Selatan. (Foto: Hari)
Tidak hanya itu, KTH Pansela juga mengembangkan usaha dengan produk gula nipah, kopi mangrove, teh druju, legen nipah, kepiting, pembibitan mangrove, dan ekowisata.
Puas mengelilingi KEE Lahan Basah Mangrove Muara Kali Ijo, rombongan menuju lokasi berikutnya yakni Gua Jatijajar tepat pukul 11.00 WIB. Lalu disambut oleh pemandu lokal yang juga anggota BP Geopark Kebumen, Irfan Bharata.
“Vandalisme di langit Gua Jatijajar sengaja dibiarkan untuk bahan edukasi. Beberapa vandalisme bertuliskan nama tokoh yang berkaitan dengan Kebumen,” kata Irfan.

Pemandu menjelaskan tentang Gua Jatijajar. (Foto: Hari)
Alasan mengapa Gua Jatijajar menggunakan ikon dinosaurus, menurutnya hal ini dikarenakan dinosaurus merupakan hewan purba. Di mana Gua Jatijajar telah ada sejak 33 juta tahun yang lalu (miosen).
Di dalam Gua Jatijajar juga terdapat delapan diorama yang mengisahkan legenda Raden Kamandaka–Lutung Kasarung. Termasuk empat sendang: sendang kantil, sendang mawar, sendang puserbumi, dan sendang jombor.








Saat ini belum ada komentar