Puasa Ramadan untuk Menggapai Kebahagiaan
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 13 Mar 2024
- visibility 3.836
- comment 0 komentar

Dari cerita yang dipaparkan tersebut nampak memberi dukungan pada pendapat kedua yang mengatakan bahwa puasa Ramadan merupakan ciri khas syariat umat Nabi Muhammad SAW yang tidak ditemukan sebelumnya. Berpijak pada pendapat yang diklaim sebagai pendapat Mu’tamad (pendapat yang dijadikan pegangan) ini, puasa yang dilakukan umat-umat terdahulu bukanlah puasa ramadhan seperti sekarang ini.
Ramadan Berpeluang Besar Mengubah Jatidiri Manusia
Pahala puasa Ramadan dalam pengaplikasiannya, ibadah puasa dilakukan hanya dapat dilakukan dengan menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa. Tentunya, seseorang yang berpuasa atau tidak tidak mampu terdeteksi dengan panca indera. Maka dari itu, sudah sangat layak kalau dikatakan puasa merupakan ibadah yang murni hanya diketahui oleh seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak ada yang tahu secara pasti seberapa besar pahala yang dijanjikan Allah SWT kepada hambanya yang melakukan ibadah puasa Ramadan.
Dengan demikian, Rasulullah SAW pernah bersabda dalam salah satu hadistnya;
“Allah azza wa jalla berfirman; Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”.
Ramadan memberikan peluang yang sangat besar untuk mengubah jatidiri manusia. Dalam hal akhlak, jatidiri manusia akan bisa lebih baik sebab Ramadan melatih nilai kejujuran.Ibadah puasa yang sehari-hari dijalankan, memiliki potensi dalam mendarmabaktikan kejujuran pada Allah.
Oleh sebab itu, nilai pahala puasa yang berlipatganda hanya menjadi otoritas Allah. Tidak ada satu pun manusia yang tahu pahalanya. Sejenak perlu merenung hadits dari Sahabat Ibnu Mas’ud yang tertulis dalam kitab Bulughul Maram. Bahwa Rasulullah Saw bersabda yang artinya:
“Hendaklah kalian selalu melakukan kejujuran, karena kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Jika seorang hamba berbuat jujur dan membiasakan sifat ini hingga dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Jauhkanlah diri kalian dari dusta, karena dusta akan membimbing kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan membimbing ke neraka. Jika seorang hamba selalu berdusta dan membiasakan berbuat dusta hingga Allah mencatatnya sebagai pendusta.”
Puasa untuk Memenuhi Kebutuhan Rohani Demi Kebahagiaan
Hakikat kejujuran adalah dari usaha manusia menyatakan kondisi apa adanya-tanpa harus berdusta. Nilai kejujuran ada pada pesan hidupnya untuk menyebutkan bahwa kondisi nyata dengan tidak mengada-ada. Sebab dusta adalah awal dari kehancuran. Maka salah satu pesan Ibnu Hazim kepada Sulaiman yang dilukiskan oleh Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin adalah:
“Datanglah dirimu kepada kitab Allah yang mempunyai pesan bahwa sesungguhnya orang-orang yang baik berada dalam kesenangan. Dan orang yang jahat berada di neraka”.







Saat ini belum ada komentar