Genting Genteng Prabowo
- account_circle Sigit Tri Prabowo
- calendar_month Sel, 3 Feb 2026
- visibility 1.695
- comment 0 komentar

Kawasan pabrik genting Sokka Kebumen. (Foto: Giyono Padmo)
Sejak era 2000an, seiring dengan merebaknya materi konstruksi baja ringan dan berbagai material atap berbasis logam, genting tanah liat kembali masuk ke masa suram. Material baru yang dianggap lebih praktis dan ekonomis menggoyang dominasi genting tanah liat.
Bisa jadi dengan berkaca dari masa lalu, sempat muncul permintaan dari kalangan pengusaha genting agar pemerintah kabupaten membuat peraturan yang mewajibkan para kontraktor menggunakan genting lokal. Sepertinya mereka sadar, naik turunnya industri genting sangat dipengaruhi kebijakan dan intervensi pemerintah.

Dari Dominasi Kapital ke Industri Rakyat
Di masa kolonial, industri genting Kebumen didominasi pabrik-pabrik besar yang menguasai proses hulu hingga hilir, dari pengolahan bahan baku hingga pemasaran dan distribusi. Aboengamar, Brezole dan NVT adalah perusahaan-perusahaan yang menguasai industri, sementara masyarakat lokal lebih terlibat sebagai pekerja.
Di era kemerdekaan, perusahaan besar yang bertahan tinggal Aboengamar yang kemudian berganti nama menjadi AB Sokka. Sementara itu, para mantan pekerja yang telah cukup menguasai teknik pembuatan genting mendirikan usaha masing-masing, tentu dengan skala yang lebih kecil. Jika pabrik besar menggunakan tungku pembakar modern dengan cerobong-cerobongnya, para pengusaha kecil ini membuat tobong yang berukuran lebih kecil dan lebih ekonomis biaya operasionalnya.
Sangat menarik bahwa pergeseran dari para pemilik modal besar ke para pengusaha kecil ini memunculkan sebuah ekosistem industri rakyat berbasis rantai pasok (chain supply). Proses produksi dan pemasaran tidak lagi didominasi pemodal besar namun dipotong-potong dalam irisan kecil dengan masing-masing tahap memiliki pelaku spesialisnya. Ada pengusaha yang khusus memasok dan mengolah bahan baku, ada yang mencetak genting, ada yang menyewakan tobong dan jasa pembakarannya, ada juga yang khusus memasarkan. Muncul pula skema plasma, di mana para produsen kecil akan menyetor genting ke salah satu orangtua asuh untuk kemudian dijual dalam partai besar.
- Penulis: Sigit Tri Prabowo








Saat ini belum ada komentar