Cerbung: Bersinggungan (Bagian-3)
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 16 Mar 2025
- visibility 1.650
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Aku menatapmu dengan mata marah. “Karena itu bukan aku.”
Kamu terdiam. Aku tahu kamu ingin membantah, ingin meyakinkanku. Tapi aku juga tahu, dalam hatimu, kamu sadar bahwa aku sudah berbeda. Dan aku melihat kesedihan dalam matamu saat akhirnya kamu memahami itu.
***
Kamu datang ke rumahku suatu sore, membawa kanvas kosong dan sekotak cat akrilik.
“Aku mau belajar lagi,” katamu, tersenyum kecil.
Aku hanya menatapmu tanpa ekspresi. “Aku nggak bisa ngajarin kamu lagi.”
Kamu nggak menyerah. “Kalau aku menggambar, kamu bisa bantu kasih saran, kan? Kayak dulu.”
Aku menghela napas, menatap tanganku yang lemas di pangkuanku. “Aku bahkan nggak bisa bantu diriku sendiri.”
Kamu terdiam. Aku bisa melihat kegelisahan di matamu, rasa tidak ingin menyerah, tapi juga ketakutan bahwa kamu akan kehilangan sesuatu yang penting.
Akhirnya, kamu menunduk, memasukkan kembali cat ke dalam tasmu.
“Kalau kamu butuh aku… aku di sini,” katamu pelan, sebelum pergi.
Aku nggak pernah memanggilmu kembali.
***
Di koridor kampus, kamu meraih ujung sweaterku. Kamu menggenggam jemarimu sendiri, seperti sedang menahan sesuatu.
”Kenapa?” Tanyaku.
“Kamu ingat dulu kita pernah ngobrol soal ini?” katamu, akhirnya.
Aku meliriknya. “Ngobrol soal apa?”
Kamu tersenyum kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Soal gimana kalau kamu nggak bisa menggambar. Apakah aku masih suka seni?”
Aku diam.
Kamu menarik napas dalam, lalu menatapku dengan cara yang selama ini aku hindari. “Aku baru sadar kalau jawabannya bukan soal seni.”
Aku nggak tahu harus berkata apa.
“Aku suka seni,” lanjutnya. “Tapi lebih dari itu… aku suka orang yang mengenalkan aku pada seni.”
Aku memalingkan wajah.
“Tapi kalau orang itu bukan dirinya sendiri lagi…” kamu berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, “…aku juga nggak tahu harus gimana.”
Aku ingin bilang aku masih bisa berubah. Aku ingin bilang aku akan berusaha. Tapi aku tahu, kalau aku masih membutuhkan kamu untuk menyelamatkanku, maka aku belum benar-benar menemukan diriku sendiri.
***
Aku nggak tahu sejak kapan aku mulai takut dengan keheningan.
Dulu, saat kita masih sering duduk berdua di ruang art studio yang penuh bau cat dan kertas, keheningan terasa nyaman. Kamu akan sibuk menggambar garis-garis awal di sketsamu, sesekali melirikku untuk memastikan kamu melakukannya dengan benar. Aku akan pura-pura sibuk sendiri, padahal lebih sering memperhatikan ekspresi seriusmu.














Saat ini belum ada komentar