Cerbung: Bersinggungan (Bagian-3)
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 16 Mar 2025
- visibility 1.504
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Sekarang, keheningan di antara kita terasa seperti sesuatu yang berat.
Aku tahu kamu sudah berhenti mencoba mengajakku bicara. Aku tahu kamu sudah lelah mengulangi pertanyaan yang nggak pernah bisa aku jawab.
Tapi aku juga nggak tahu harus berkata apa.
Hari itu, kamu datang, seperti biasa, duduk di seberangku dengan secangkir kopi yang aromanya bercampur dengan bau cat kering. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Kamu nggak bertanya apakah aku sudah makan. Kamu nggak mencoba mencairkan suasana dengan candaan. Kamu hanya duduk di sana, memandang langit-langit dengan tatapan yang seakan berkata lebih dari yang pernah ia ucapkan.
Lalu, untuk pertama kalinya, aku merasa takut. Takut kalau ini adalah hari terakhir kamu akan duduk di situ. Takut kalau aku sudah terlalu lama menarik diri, sampai kamu akhirnya sadar bahwa mungkin kamu harus berhenti menunggu aku kembali.
Aku ingin bertanya, “Ada apa?”
Aku ingin bilang, “Jangan pergi.”
Tapi seperti biasanya, aku hanya diam. Dan saat kamu akhirnya berdiri, merapikan tasmu tanpa terburu-buru, aku bisa merasakan sesuatu berubah.
Tidak ada kata perpisahan.
Tidak ada pertanyaan terakhir.
Kamu hanya tersenyum kecil. Senyum yang lebih terasa seperti perpisahan daripada kata-kata itu sendiri.
Lalu kamu pergi.
Aku tetap duduk di kursiku, menatap ruang kosong di hadapanku. Aku pikir kamu akan kembali, seperti biasa. Aku pikir besok aku masih bisa melihatmu, dengan sketsa yang belum selesai di tanganmu.
Tapi hari itu, aku tahu.
Kamu nggak akan kembali.
***
Aku sempat berpikir untuk benar-benar meninggalkan seni. Untuk berhenti menggambar, berhenti melukis, berhenti menjadi seseorang yang dulu begitu hidup dalam tiap goresan. Aku mencoba menjauh dari itu semua, berharap rasa kehilangan ini akan menghilang seiring waktu.
Aku pernah bertanya pada dokter, apakah tanganku bisa kembali seperti dulu. Jawabannya selalu sama. Pergelangan tangan dan sarafku mengalami kerusakan yang tidak bisa sepenuhnya pulih. Aku masih bisa menggerakkan jariku, masih bisa mencengkeram pensil, tapi tidak lagi sehalus dan sekuat dulu. Goresanku tak lagi presisi, garis-garis yang dulu mulus kini tampak kaku dan goyah.









Saat ini belum ada komentar