Cerbung: Bersinggungan (Bagian-2)
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 12 Mar 2025
- visibility 1.293
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Kamu tersenyum, mengangkat bahu. “Aku nggak bohong. Aku nggak pernah ngerti kenapa orang suka menggambar. Tapi habis lihat kamu, aku ngerasa… seni itu bukan sekadar gambar, atau goresan warna. Itu perasaan. Dan aku pengen ngerti itu lebih dalam.”
Aku diam, membiarkan kata-katamu meresap.
“Terus kalau aku nggak bisa menggambar atau melukis lagi,” tanyaku pelan, “kamu masih akan suka seni?”
Kamu terdiam sesaat sebelum tersenyum kecil.
“Aku nggak tahu,” katamu jujur. “Tapi aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku nggak suka seni,” katamu, menatapku lurus. “Aku suka kamu.”
Dan hari itu, aku menyadari kalau kamu adalah sesuatu yang lebih dari itu.
***
Hari itu hujan turun deras. Aku baru pulang dari toko alat lukis, berencana membelikanmu set pensil baru karena punyamu sudah mulai tumpul. Aku naik motor dengan perasaan ringan, membayangkan bagaimana ekspresimu saat menerimanya.
Jalanan basah, lampu-lampu kendaraan berpendar samar di balik butiran hujan yang menempel di kaca helmku. Aku nggak ngebut, hanya melaju pelan, menikmati dinginnya udara yang bercampur bau aspal basah.
Sebuah mobil di depanku tiba-tiba mengerem mendadak. Refleks, aku ikut menarik tuas rem, tapi ban motorku selip di atas aspal licin. Ada sensasi aneh saat tubuhku terlempar, seperti gravitasi tidak lagi memihakku. Pandanganku kabur, kilasan cahaya, suara klakson, lalu hantaman keras di sisi kananku.
Setelah itu, semuanya jadi hitam.
Aku terbangun di rumah sakit, dengan lengan kananku diperban dan kepala masih berdenyut sakit. Butuh beberapa detik bagiku untuk memahami apa yang terjadi.
“Aku… kenapa?” Tanyaku pada perawat yang sedang memeriksa infusku.
“Kecelakaan. Kamu jatuh dari motor,” jawabnya singkat, suaranya terdengar samar di telingaku yang masih berdengung.
Aku mencoba menggerakkan jariku, tapi rasa sakit menyebar dari lenganku ke seluruh tubuhku.
Aku masih mencoba memprosesnya saat dokter masuk dan menjelaskan lebih lanjut. Pergelangan tanganku patah. Sarafnya rusak. Aku akan pulih, tapi mungkin tidak bisa menggambar seperti dulu lagi.
Aku mencoba menyangkal semuanya. Aku memaksa tanganku menggenggam pensil lagi, tapi hasilnya buruk. Garis-garisnya berantakan, getarannya terlihat jelas. Aku nggak lagi bisa menggambar dengan stabil.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benci seni.









Saat ini belum ada komentar