Cerbung: Bersinggungan (Bagian-2)
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 12 Mar 2025
- visibility 1.291
- comment 0 komentar

Ilustrasi by AI
Aku menjalani fisioterapi selama berminggu-minggu. Awalnya, jari-jariku bahkan nggak bisa kugerakkan tanpa rasa sakit yang menjalar hingga ke bahuku. Setiap sesi terapi terasa seperti hukuman. Aku harus belajar menggenggam benda, mengangkat cangkir, menekan bola karet, semua hal remeh yang dulu kulakukan tanpa berpikir.
Tapi menggambar? Itu tidak lagi terasa mungkin.
Pensil dan kuas terasa asing di tanganku. Garis-garis yang kutorehkan berantakan, tidak sehalus dulu. Aku mencoba melukis, tapi sapuan kuasku goyah, warna-warna bertumpuk tanpa arah. Aku frustrasi. Setiap kali aku mencoba, hasilnya hanya mengingatkanku pada apa yang telah hilang.
Kamu datang setiap hari, membawakan buku sketsa, menyodorkan pensil di hadapanku dengan harapan yang sama, bahwa aku akan kembali. Bahwa aku hanya butuh waktu. Tapi aku tahu, tangan ini tidak akan pernah lagi melukis seperti dulu.
Jadi, aku berhenti mencoba.
Awalnya, aku masih mencoba bertahan. Aku masih datang ke art studio, tapi hanya duduk diam di sudut. Aku masih membaca pesan darimu, tapi tidak selalu membalasnya. Aku masih tersenyum saat bertemu di koridor, tapi semakin lama, senyum itu semakin tipis, semakin hambar. Sampai akhirnya, aku benar-benar berhenti.
Aku berhenti datang ke art studio. Aku berhenti membalas pesanmu. Aku pura-pura tidak melihatmu di koridor kampus. Dan aku mulai berpikir… bahwa kamu hanya melihatku sebagai seseorang yang bisa menggambar dan melukis, bukan sebagai seseorang yang benar-benar berarti. (Bersambung)









Saat ini belum ada komentar