Begini Curhat Wartawan yang Beritanya Di-Copy Paste di Media Sosial

  • Whatsapp
Para pemburu berita menumpang mobil polisi saat liputan banjir. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)

DAHULU saya mangkel sekali pada orang yang suka copy paste berita dari website ke Facebook atau platform media sosial lainnya. Bayangkan, baru tiga menit diunggah di website, eh sudah nongol di beranda “Muka Buku” alias Facebook.

Sepertinya kemangkelan saya itu tidak berlebihan. Bayangkan untuk menulis satu berita itu dibutuhkan tidak sedikit energi. Mencari bahan berita perlu bensin untuk liputan. Paling tidak pulsa untuk telepon sana-sini dan kuota data internet untuk WhatsApp narasumber.

Berita Lainnya

Lalu menulisnya, butuh daya listrik untuk nyalain laptop atau nge-charge smartphone. Apalagi laptop belinya juga kredit, kan masih butuh cicilan sampai lunas. Lagian, menulis juga butuh mood yang baik, secangkir kopi biar inspirasinya bagus atau sebat kretek bagi ahli hisap.

***

Piye perasaanmu jika hasil dari jerih payah itu, tiba-tiba dicomot orang lain? Celakanya nama atau inisial penulisnya dihilangkan. Sumber tulisan itu sama sekali tidak dicantumkan. Sampai diklaim sebagai hasil karyanya sendiri. Itu kan cimex lectularius alias bangs*t.

Pernah suatu kali, berita yang saya tulis yang dimutilasi sana-sini beredar di media sosial. Meski sudah dalam bentuk printilan, seorang penulis tidak akan pernah lupa pada tulisan sendiri. Tragisnya setelah beredar, pesan berantai itu kembali ke saya melalui WhatsApp Group (WAG).

“Kayaknya kenal nih tulisannya,” batin saya.

Di satu sisi, saya sih senang karena karya tulisan bisa dibaca oleh banyak orang. Tetapi di sisi lain, kunjungan ke website menjadi berkurang, karena tulisan karena sudah bisa diakses tanpa mengunjungi website.

***

Okey, mungkin penyebar berita itu tidak mendapatkan keuntungan finansial, tetapi apa yang dilakukan itu menghalangi pengunjung untuk masuk ke website.

Keresahan saya ini mirip-mirip pedagang sayur di dalam Pasar Tumenggungan yang mengeluh karena banyak pedagang sayur membuka lapak di luar pasar. Akhirnya pedagang di dalam pasar sepi, karena para pengunjung sudah mendapatkan sayuran di luar pasar.

Tetapi itu dulu, seperti dalam kata pertama tulisan ini. Sekarang ini saya sudah berdamai dengan keadaan. Seperti para pedagang pasar yang mengikuti arus. Selain memiliki kios di dalam pasar, mereka juga ikut membuka lapak di luar pasar.

Namanya juga usaha. Soal rejeki sudah itu sudah ada yang mengatur. Kata ustadz, rejeki tidak mungkin tertukar.

***

Kesadaran saya itu muncul setelah melihat kenyataan bahwa sebagian pengguna Facebook ternyata kaum fakir kuota yang memakai mode gratisan. Tentu dengan mode ini, mereka tidak bisa membuka tautan (link) berita yang dibagikan di grup-grup Facebook.

Lihat saja di kolom komentar di grup Facebook, isinya bukan menanggapi isi berita, tetapi malah bertanya mengenai isi berita itu sendiri. Bahkan ada pula yang terus terang minta di-copy-kan karena menggunakan mode gratisan.

Anu, maklum nganggo mode gratisan. Duite kanggo bayar bocah sekolah.”

Itulah kenapa, sekarang ini saya ikhlas saja saat tulisan saya disalin kemudian disebarkan ke mana-mana. (G. Padmo)

Berita Terkait