Alun-alun Milik Siapa?
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Kam, 7 Des 2023
- visibility 30.521
- comment 0 komentar

Alun-alun Kebumen. (Foto: Hari Satria)
Bagi mereka yang setuju, perubahan ini memberi angin segar pada wajah kota. Warga Kebumen yang memang merindukan ruang publik, ruang bersama yang indah dan nyaman merasa mendapat jawabannya.
Hadirnya pusat jajanan berbentuk kapal besar dipandang sebagai salah satu tanda kawasan (landmark) yang mengangkat citra Kebumen. Para pedagang seputaran alun-alun yang kelak akan ditempatkan di sana tentu juga menaruh harapan besar bahwa kelak dagangannya akan lebih laris karena mendapat tempat yang istimewa.
***
Dalam filosofi Jawa, alun-alun merupakan bagian dari konsep kepemimpinan catur gatra tunggal. Kehadiran alun-alun merupakan bentuk kewibawaan sebuah pemerintahan sekaligus pengingat bahwa pemimpin pada akhirnya merupakan pelayan rakyatnya.
Cokronegoro I, Bupati pertama Purworejo sangat menyadari itu. Begitu dilantik dia melakukan pembangunan besar-besaran: jalan raya Purworejo Magelang, saluran irigasi Kedungputri dan sebuah alun-alun yang pada masa itu merupakan alun-alun terluas di Jawa. Cokronegoro dengan brilian memadukan infrastruktur transportasi dan irigasi dengan pembangunan citra pemerintah lewat sebuah alun-alun yang megah.
Baca Juga: Tagline Kebumen Semarak dan Pemberian Nama Alun-alun Pancasila, Ini Penjelasannya
Alun-alun Pancasila Kebumen harus diakui sebagai etalase, sebagai wajah pertama kabupaten ini. Alun-alun utama yang dikelola dengan baik merupakan salah satu cermin tata kelola pemerintahan. Bukan lebih penting dari desa, tapi alun-alun kota sama perlunya dirawat seperti semua sudut kabupaten kita.
Di sisi lain, alun-alun Kebumen tak boleh kehilangan kodratnya sebagai ruang milik rakyat. Berbagai fasilitas: panggung seni, jalur lari, kapal mendoan hingga toilet harus dijaga agar berfungsi dengan baik sekaligus tetap menjadi cermin sebuah halaman rumah yang asri.
Tiga atau lima tahun lagi akan kita buktikan, apakah rakyat Kebumen menghargai halaman rumahnya atau akan seenaknya jag-jagan sehingga yang ada adalah sebuah halaman yang kumuh dan kotor. ***
Sigit Tri Prabowo, Ketua Pelaksana Badan Pengelola Geopark Kebumen









Saat ini belum ada komentar