Pompa Air Listrik Jadi Solusi Petani Atasi Kekeringan
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 15 Jul 2020
- visibility 4.805
- comment 0 komentar

Wakil Bupati Kebumen H Arif Sugiyanto meninjau pompa air listrik di Desa Banjurmukadan, Kecamatan Buluspesantren. (Foto: Humas Kebumen)
BULUSPESANTREN (KebumenUpdate.com) – Kebumen memiliki sawah tadah hujan yang cukup luas. Aliran irigasi teknis dari Waduk Wadaslintang maupun Waduk Sempor semakin tidak maksimal mencukupi kebutuhan pertanian.
Belum lagi di daerah hilir, para petani kerap kali tidak kebagian air irigasi. Curah hujan yang tidak menentu membuat petani semakin was-was. Dampaknya, ancaman gagal panen seringkali menghantui petani.
Inovasi Pompa Listrik Solusi Hadapi Kekeringan
Untuk mengatasi persoalan itu, para petani di Kebumen mencari solusi menghadapi kekeringan dengan inovasi pompa listrik dengan sumur. Seperti dilakukan oleh warga di Desa Banjurmukan, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen.
Kepala Desa Banjurmukadan Ryan Sugi Abdi mengakui pihaknya berinovasi karena lokasi lahan pertanian yang kurang air lantaran aliran irigasi tidak mencukupi sawah sekitar Desa Banjurmukadan.
Saat ini terdapat delapan unit mesin pompa tenaga listrik berkapasitas 2 PK. Dalam satu menit dapat menyedot air sebanyak 500 liter air. Satu mesin mampu mengairi sawah seluas satu hektare.
Pompa Bertenaga Listrik Dinilai Lebih Efisien
Pompa bertenaga listrik dinilai lebih efisien dibanding mesin diesel. dalam waktu tujuh jam hanya menghabiskan biaya Rp 20.000. Sedangkan untuk mesin diesel penggunaan bahan bakar minyak menghabiskan Rp 80.000.
“Dengan adanya pompa air listrik ini diharapkan petani dapat menggarap sawah tiga musim yakni dua kali musim tanam padi dan satu kali palawija,” tandasnya.
Dia menambahkan bahwa pembangunan mesin pompa lengkap dengan gardu dan pemasangan meteran listrik itu menggunakan dana desa melalui masyawarah desa. Untuk satu unit pembangunan mesin, gardu dan listrik mengabiskan dana sekitar Rp 19 juta.
Inovasi Ini Mampu Menghemat Hingga 65 Persen
Desa Singoyudan Kecamatan Mirit juga menggunakan sistem pompa air listrik. Luas sawah di Desa Singoyudan mencapai 119 hektare yang merupakan sawah tadah hujan. Desa tersebut dulunya hanya panen sekali setahun saja. Namun setelah petani beralih menggunakan pompa air sawah tadah hujan itu mampu panen tiga kali setahun.







Saat ini belum ada komentar