FOMO: Ketakutan Ketinggalan Momen yang Menggerogoti Kesehatan Mental
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 10 Mei 2025
- visibility 520
- comment 0 komentar

Image by @peopleimages-yuriarcurs
SCROLL media sosial, lihat teman liburan, nongkrong, sukses di usia muda—lalu kamu merasa tertinggal? Itu bukan hal aneh. Kamu mungkin sedang mengalami FOMO (Fear of Missing Out), atau rasa takut ketinggalan momen yang dianggap penting.
Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Salore pafisalore.org menyebutkan FOMO menjadi fenomena yang sangat relevan di kalangan anak muda saat ini. Di balik aktivitas online yang seru, ada tekanan sosial yang terus mengintai: takut gak eksis, takut gak relevan, takut melewatkan kesempatan. Tanpa disadari, ini bisa memicu kecemasan, kurang percaya diri, hingga stres berkepanjangan.
Menurut riset dalam Computers in Human Behavior Journal (2020), penggunaan media sosial yang tinggi berkorelasi dengan meningkatnya perasaan FOMO. Bahkan, perasaan ini bisa menurunkan kepuasan hidup karena seseorang terus merasa hidup orang lain lebih menarik dari hidupnya sendiri.
Tanda-tanda FOMO:
- Merasa gelisah ketika tidak membuka media sosial.
- Memaksakan hadir di semua acara meski tubuh lelah.
- Terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
- Takut melewatkan tren, obrolan, atau kesempatan networking.
FOMO bisa menguras energi dan membuat kamu kehilangan koneksi dengan dirimu sendiri. Solusinya bukan anti-sosial, tapi lebih sadar dan bijak dalam berinteraksi digital. Kurangi screen time, sadari bahwa apa yang dilihat di media sosial hanyalah “highlight”, bukan realita sepenuhnya.
Mulailah mempraktikkan JOMO (Joy of Missing Out), yaitu menikmati momen sendiri tanpa merasa harus selalu update. Saat kamu bisa menikmati hidup dengan tenang tanpa membandingkan, di situlah kesehatan mentalmu mulai pulih.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan edukatif. Jika kamu merasa FOMO sudah mengganggu aktivitas sehari-hari atau memicu stres berat, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.







Saat ini belum ada komentar