Pameran Arsip Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang, Hidupkan Kembali Semangat Revolusi 1945
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 21 Okt 2025
- visibility 697
- comment 0 komentar

Para pelajar mengunjungi pameran arsip sejarah di Rumah PoHan. (Foto: Istimewa)
SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Dalam rangka memperingati 80 tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang, Rumah PoHan menghadirkan pameran arsip sejarah yang menghidupkan kembali suasana heroik Oktober 1945. Saat itu Semarang menjadi saksi pertempuran besar pertama antara rakyat dan kekuatan militer asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Pameran yang digelar di Rumah PoHan, Jalan Kepodang 64, Kompleks Kota Lama Semarang, berlangsung dari 9 hingga 17 Oktober 2025. Kegiatan ini menampilkan arsip surat kabar langka yang terbit selama pertempuran berlangsung. Pameran ini menyingkap narasi perjuangan dan semangat kemerdekaan yang menggelora di kalangan rakyat dan tentara Republik kala itu.
Selain pameran arsip, acara ini juga menghadirkan berbagai program publik seperti:
- Diskusi dan kuliah umum oleh Prodi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang (UNNES)
- Pemutaran film “Sanggem” karya mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah UNNES
- Lokakarya batik bersama Setitik Cultureware
- Pertunjukan musik oleh Dewan Kesenian Semarang
- Tur kuratorial bersama tim kurator Rumah PoHan, Kesit Widjanarko dan Mozes Christian Budiono
Kesit dan Mozes menegaskan, pameran ini bukan sekadar menampilkan koleksi masa lalu, melainkan juga upaya menyalakan kembali api kesadaran sejarah bangsa.
“Bangsa yang melupakan sejarahnya bukan hanya kehilangan jalan pulang ke masa lalu, tetapi juga kehilangan arah untuk melangkah ke masa depan,” ujar keduanya.
Koleksi Pribadi Surat Kabar Langka dari Masa Revolusi
Pameran ini memanfaatkan koleksi pribadi Bapak Pohan dan Ibu Sylvie Probowati, yang menyimpan surat kabar langka dari masa revolusi. Arsip tersebut menjadi sumber primer penting bagi penelitian sejarah sekaligus pengingat akan nilai perjuangan rakyat Semarang.
Lebih dari sekadar ruang pamer, Rumah PoHan menginisiasi kegiatan ini sebagai ruang perjumpaan lintas disiplin. Berbagai kalangan baik akademisi, pegiat sejarah, seniman, jurnalis, hingga komunitas budaya, terlibat aktif untuk memperkaya perspektif terhadap sejarah lokal dan nasional.
Selama pameran berlangsung, tercatat 1.127 pengunjung dari berbagai sekolah dan universitas mengikuti tur kuratorial, termasuk SMA Kolese Loyola, SMAN 5 Semarang, SMAN 14 Semarang, SMA Karangturi, UNNES, USM, dan Upgris.
Rumah PoHan berharap, pameran ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa arsip bukan sekadar dokumen masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang memperkuat identitas dan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar