Mau ke Mana Wisata Kita?
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 4 Sep 2021
- visibility 3.718
- comment 0 komentar

Menikmati suasana pagi di Pantai Menganti Kebumen. (Foto: Padmo)
Munculnya wacana pengelolaan objek wisata sebagai sebuah entitas bisnis layak diberi ruang untuk dikaji dengan baik. Dengan dikelolanya obyek wisata milik pemerintah dengan konsep kewirausahaan sosial (social enterpreunership), objek wisata akan lebih mampu berkembang dengan sehat sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar. Di sisi lain hal ini akan mendorong Dinas Pariwisata untuk mengoptimalkan fungsi sebagai regulator dan fasilitator berkembangnya industri pariwisata Kebumen.
Perencanaan Berbasis Data
Suka atau tidak, kelengkapan dan keakuratan basis data menjadi kelemahan birokrasi kita. Bupati Kebumen H Arif Sugiyanto SH bahkan mengakui betapa carut-marutnya basis data yang kita miliki. Tak akan ada perencanaan yang berkualitas dan tepat sasaran jika basis datanya amburadul. Tak ada proses eksekusi prima jika perencanaannya ngawur.
Perencanaan pariwisata Kebumen sudah saatnya dievaluasi apakah sudah menggunakan basis data yang sahih, atau lebih jauh lagi, sudah adakah basis data kepariwisataan yang tersusun baik. Hingga saat ini data yang sering dirilis sebatas jumlah pengunjung setiap tahun berdasarkan tiket terjual di objek wisata milik pemerintah. Komposisi demografi, asal wisatawan, lama tinggal dan tingkat konsumsi wisatawan belum tersedia bagi publik.
Baca Juga: Menjadi Generasi Digital Citizenship
Demikian juga data tentang potensi dan produk wisata yang dimiliki perlu disusun dengan lebih rapih dan terhubung. Pariwisata adalah industri turunan yang terkait dengan produk-produk industri lain. Tanpa ada data memadai tentang transportasi, kuliner, kerajinan, akodomasi dan lain-lain mustahil didapatkan satu gambaran utuh tentang potensi industri wisata Kebumen.
Membidik Pasar yang Tepat
Di wilayah Barlingmascakeb, Kebumen dipandang paling intens melakukan promosi wisata. Yang menarik ternyata promosi ini dilakukan tidak hanya oleh pihak pemerintah. Berbagai komunitas mengerahkan daya kreatifnya untuk mengabarkan keindahan Kebumen. Meningkatnya anggaran pemasaran wisata sejak beberapa tahun terakhir menunjukkan seriusnya perhatian Pemerintah Kabupaten terhadap aspek promosi. Sayangnya promosi yang dilakukan masih terkesan acak, belum menyasar segmen pasar yang jelas.
Ke depan perlulah ada kajian penyusunan skala prioritas segmen pasar pariwisata. Mantan Kepala BAP3DA, Djunaedi Faturrochman dalam satu kesempatan mengungkapkan bahwa jika pariwisata diharapkan menjadi daya ungkit laju ekonomi daerah, maka sektor ini harus mampu mendatangkan aliran uang dari luar Kebumen. Selama keramaian wisatawan masih sebatas AKDK (Antar Kecamatan Dalam Kabupaten), daya ungkit sektor pariwisata terhadap tumbuh kembang ekonomi tak akan pernah maksimal.







Saat ini belum ada komentar