Tiongkok Tertarik Kembangkan Industri Garam di Jateng
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Kam, 17 Jul 2025
- visibility 874
- comment 0 komentar

Gubernur Ahmad Luthfi menerima CEO PT Susanti Megah, Hermawan Santoso. (Foto: Humas Jateng)
SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Jawa Tengah dilirik sebagai lokasi strategis investasi industri garam oleh investor asal Tiongkok. Ketertarikan ini disampaikan CEO PT Susanti Megah, Hermawan Santoso, usai bertemu Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Kamis 17 Juli 2025.
Menurut Hermawan, investor memerlukan lahan seluas sekitar 3.000 hektare untuk pengembangan tambak garam. Langkah ini sejalan dengan upaya mewujudkan swasembada garam nasional, guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Potensi garam Jateng cukup besar, dan pemerintah daerah sangat mendukung. Tapi untuk capai swasembada, perlu penambahan kapasitas dan perluasan lahan,” ujar Hermawan.
Potensi Garam Jateng Dinilai Menjanjikan
Hermawan menyebutkan, produksi garam nasional saat ini masih tertinggal, dengan Madura dan NTB menjadi penyumbang terbesar. Namun, Jawa Tengah dianggap memiliki potensi besar untuk mengejar ketertinggalan, jika didukung kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan petani.
“Kerja sama ini penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas garam rakyat. Kami, sebagai pelaku usaha, tentu siap mendukung langkah pemerintah,” ujarnya.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko, menambahkan bahwa beberapa kebutuhan dasar investor, seperti akses listrik, gas, dan transportasi, telah tersedia. Kini, yang dibutuhkan adalah pengembangan sentra-sentra garam baru.
Produksi Garam Jateng Masih Belum Penuhi Kebutuhan Industri
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, produksi garam rakyat pada 2024 mencapai 536.612 ton dari lahan seluas 8.267 hektare yang digarap 6.420 petani. Namun, kebutuhan garam di Jateng sebesar 119.400 ton per tahun—terutama untuk industri—belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi lokal.
“Industri butuh garam dengan kadar NaCl di atas 97%. Sementara garam rakyat umumnya hanya 95%. Kendala utamanya ada pada teknologi, infrastruktur, dan kondisi cuaca,” jelas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, Endi Faiz Effendi.
Dari total kebutuhan industri, hanya sebagian kecil yang dipenuhi oleh produsen lokal seperti SPJT dan beberapa koperasi di Rembang dan Pati. Sisanya harus didatangkan dari luar daerah. Makin Tahu Indonesia










Saat ini belum ada komentar