Jejak Inisiator Kemenag RI, Bupati Lilis Nuryani Ziarahi Makam KH Abu Dardiri di Purwokerto
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Sel, 30 Des 2025
- visibility 570
- comment 0 komentar

PURWOKERTO (KebumenUpdate.com) – Menjelang peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, sebuah potret sejarah berharga kembali terangkat ke permukaan.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani, melakukan ziarah ke makam KH Abu Dardiri di kompleks pemakaman Jalan Pekih, Purwokerto, Selasa 30 Desember 2025.
Ziarah ini bukan sekadar penghormatan formalitas kepada tokoh agama, melainkan kunjungan penuh makna kekeluargaan dan sejarah.
KH Abu Dardiri merupakan ayah mertua dari Bupati Lilis Nuryani, yang merupakan salah satu sosok pengusul lahirnya Kementerian Agama (Kemenag) RI.
Sang Inisiator dari Gombong
Lahir di Gombong, Kebumen, pada 24 Agustus 1895, KH Abu Dardiri adalah tokoh Muhammadiyah Banyumas yang memimpin selama 33 tahun (1930-1963).
Namun, peran pentingnya yang jarang diketahui secara luas dalam catatan sejarah adalah keberaniannya dalam sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) tahun 1945.
Bersama KH Saleh Su’aidy, Abu Dardiri menjadi motor penggerak yang mengusulkan agar urusan agama dipisahkan dari Kementerian Pengajaran. Usul visioner ini akhirnya diterima oleh Presiden Sukarno, yang kemudian berujung pada peresmian Kementerian Agama pada 3 Januari 1946.
“Hari ini kami berziarah ke makam almarhum mertua saya, KH Abu Dardiri. Beliau adalah ayahanda dari Pak Fuad. Peran beliau bagi bangsa ini sangat besar, khususnya dalam membidani lahirnya Kementerian Agama,” ungkap Bupati Lilis Nuryani di sela-sela ziarah.
Perjalanan Hidup Penuh Liku
Kehidupan Kiai Dardiri adalah cermin keteguhan hati. Sebelum dikenal sebagai ulama dan pejuang, ia sempat mengalami masa sulit hingga diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik gula pada tahun 1920. Dalam kondisi bangkrut, ia dan istrinya menjalankan shalat hajat selama 40 malam berturut-turut.
Titik balik hidupnya dimulai saat ia terjun ke dunia wirausaha dan percetakan di Purwokerto. Melalui mesin cetak sederhana, ia memproduksi buku-buku dakwah Islam yang menyebar luas ke masyarakat. Semangat juang inilah yang kemudian ia bawa ke panggung politik nasional pasca-proklamasi.
Harapan dan Warisan Sejarah
Putra almarhum, Ir. H. Mohammad Yahya Fuad, mengungkapkan rasa harunya atas perhatian dari jajaran Kemenag Kebumen. Ia bercerita bahwa dahulu kisah perjuangan ayahnya hanya didengar melalui cerita lisan ibundanya.
“Kami sangat berterima kasih kepada keluarga besar Kantor Kemenag Kebumen yang selalu mendoakan. Saya baru mengetahui secara resmi bahwa ayah saya diakui sebagai pengusul kementerian ini pada masa awal reformasi 1997. Sebagai bentuk penghormatan, saat ini kami sedang membangun Masjid Abu Dardiri di Ponpes Al-Kamal, Kuwarasan,” ujar Yahya Fuad.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Kemenag Kebumen, Anif Solikhin, menegaskan bahwa institusinya berhutang budi pada kegigihan KH Abu Dardiri.
“Tanpa usulan beliau, mungkin Kementerian Agama tidak akan pernah ada. Kami mengambil ibroh atau pelajaran dari kegigihan almarhum. Semoga amal jariyah beliau terus mengalir,” kata Anif.
Peringatan HAB ke-80 yang mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” ini menjadi momentum penting untuk kembali mengenalkan sosok KH Abu Dardiri sebagai jembatan sejarah antara Kebumen, Banyumas, dan kedaulatan agama di Indonesia. Makin Tahu Indonesia








Saat ini belum ada komentar