5 Alasan Geopark Kebumen Layak Jadi Unesco Global Geopark
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 10 Mei 2024
- visibility 6.578
- comment 0 komentar

Situs batu rijang dan lava basal berbentuk bantal di Kali Muncar. (Foto: BP Geopark Kebumen)
Dewan Pakar KNGI Dr Ir Yunus Kusumabrata MSc mengatakan bahwa Geopark Kebumen memiliki warisan geologi yang berkelas internasional dan memiliki karakter kuat yang berbeda dengan Geopark Gunung Sewu maupun Ciletuh.
Warisan geologi yang ada di Geopark Kebumen dapat merepresentasikan proses sejarah pembentukan bumi sehingga lebih menjelaskan evolusi bumi utamanya di pulau Jawa.
Baca Juga: Menuju Geopark Kebumen Mendunia
Jika tidak digali lebih dalam ada sesuatu urutan yang hilang. Dengan bukti-bukti geologi yang ada di kawasan Geopark Kebumen bisa diurutkan dari kejadian 100 juta tahun lalu sampai sekarang ini.
“Kalau boleh bilang, ini bukti-bukti awal proses geologi di pulau Jawa khususnya yang paling representatif dibandingkan dengan lainya. Ini layak menjadi warisan dunia, sehingga nanti dicatat sebagai geological heritage of international scientific significance,” ujarnya.
Sedangkan di selatan, bagaimana pembentukan kawasan karst yang menjadi lumbung air. Lumbung air harus dijaga bersama dengan cara melakukan konservasi baik langsung maupun tidak langsung terhadap geosite yang ada.
Geopark Kebumen juga sebagai pusat riset, terus menerus untuk lebih memperjelas kegeologian di Kebumen. Apalagi Geopark Kebumen memiliki privilege karena satu-satunya Geopark di Indonesia yang memiliki BRIN.
2. Geopark Kebumen Memiliki Badan Pengelola yang Sah

Tim Komenko Marves dan KNGI foto bersama usai pra validasi Geopark Kebumen. (Foto: Pemkab Kebumen)
Geopark Kebumen sudah menjadi Gaopark Nasional sejak 2018. Pembentukan Badan Pengelola melalui Keputusan Bupati Kebumen Nomor 400.6.2/274 Tahun 2023 tentang Pembentukan Badan Pengelola Geopark Kebumen.
Adapun Badan Pengelola Geopark Kebumen memiliki para pengurus yang berasal dari berbagai elemen masyarakat mulai dari unsur birokrasi, akademisi, profesional, pengusaha, pelaku wisata, pekerja kreatif, hingga aktivis sosial.








Saat ini belum ada komentar