5 Alasan Geopark Kebumen Layak Jadi Unesco Global Geopark
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 10 Mei 2024
- visibility 7.000
- comment 0 komentar

Situs batu rijang dan lava basal berbentuk bantal di Kali Muncar. (Foto: BP Geopark Kebumen)
Pada saat menghadiri 10th International Conference Unesco Global Geopark yang di selenggarakan di Marakesh, Morocco Geopark, pada 9 September 2023 Geopark Kebumen resmi membangun hubungan kerja sama dengan Langkawi UGGp, Malaysia dan Sotun UGGp, Thailand.
Baca Juga: Hadiri Konferensi Internasional di Maroko, Geopark Kebumen Bangun Jejaring
Subtansi kerja sama terkait dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam hal perlindungan keragaman geologi, biologi, dan budaya. Kemudian pembangunan pariwisata berkelanjutan, program edukasi geopark, pertukaran ide dan informasi dalam hal promosi dan pengembangan geopark, serta partner dalam pemanfaatkan website dan sosial media untuk publikasi.
BP Geopark Kebumen melakukan kemitraan kerjasama baik dengan Batur UGGp, Maros, Ciletuh, Rinjani, Ijen), perguruan tinggi seperti UGM, Unpad, Unindra, Unsoed, Unimugo, UPB, komunitas kesenian, instansi seperti BRIN dan BOB.
5. Pemberdayaan Masyarakat; Lestarikan Bumi Tingkatkan Ekonomi

Perajin batik tulis di Desa Gemeksekti Kebumen. (Foto: BP. Geopark Kebumen)
Pemberdayaaan masyarakat berjalan dengan baik melalui optimalisasi program dan kegiatan di geosite-geosite. Warga masyarakat di sekitar geosite sudah mengambil peran menjadi pelaku wisata, menjadi pemandu lokal dalam beberapa kunjungan.
Bahwa warisan geologi dengan nilai keilmuan yang tinggi, tidak hanya dinikmati oleh para peneliti, tetapi juga membuka kesempatan seluas-luasnya partisipasi dari masyarakat untuk berperan serta menjaga dan memanfatkan geosite untuk meningkatkan perekonimian.
Baca Juga: Geoproduk Geopark Kebumen Dipamerkan di Trade Expo Indonesia
Saat ini semua situs sudah ada pengelola lokalnya. Beberapa situs sudah bisa berjalan sendiri, namun beberapa masih perlu pendampingan. Nantinya ada intervensi setiap situs untuk para pengelola lokal agar bisa menjelaskan lebih detail.
“Bukan soal menjadi ahli geologi, tapi bagaimana mereka bisa melihat warisan geologi yang dimiliki dan mereka terlibat di dalamnya,” papar Sigit.














Saat ini belum ada komentar