Diabetes dan Perubahan Iklim; Tantangan Global yang Saling Berhubungan

  • Whatsapp
Diabetes
Meet the Expert bersama dr Dicky Tahapary PhD SpPD-KEMD. (Foto: Istimewa)

JAKARTA (KebumenUpdate.com) – Perubahan iklim saat ini nyata adanya dan memiliki dampak bagi kesehatan. National Center for Biotechnology Information (NCBI) Amerika Serikat menyebutkan, peningkatan suhu dan cuaca ekstrim akibat perubahan iklim global dapat meningkatkan risiko masyarakat menjadi lebih mudah sakit atau bahkan mengalami kematian, terutama bagi para penderita diabetes yang memiliki komplikasi kardiovaskular.

Tidak hanya itu, para penderita diabetes cenderung mengalami dehidrasi dan heatstroke (serangan stroke akibat gelombang panas) ketika suhu lingkungan meningkat, sehingga berisiko mengalami masalah kesehatan kardiovaskuler dan bahkan serangan jantung.

Berita Lainnya

Risiko Obesitas dan Diabetes Meningkat

Dokter Dicky Tahapary PhD SpPD-KEMD, Staff Divisi Endokrin, Metabolik, dan Diabetes, Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI merujuk riset dari International Diabetes Federation menyebutkan bahwa diabetes dan perubahan iklim merupakan dua tantangan global yang saling berhubungan satu dengan lainnya dan perlu diperhatikan oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

“Di sisi lain, perubahan iklim juga memberikan dampak tidak langsung dengan peningkatan risiko diabetes. Dimana produksi bahan makanan segar berkualitas berkurang sehingga cenderung mengonsumsi produk makanan olahan yang tinggi gula dan kalori. Sehingga meningkatkan risiko obesitas dan diabetes,” ujar saat Meet the Expert dalam rangkaian #BeatDiabetes Online Festival 2021.

Edukasi Anak Muda Indonesia Sadar Risiko Diabetes

Pendiri Komunitas Sobat Diabet dr Rudy Kurniawan SpPD menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun, Sobat Diabet hadir dan secara konsisten mengedukasi anak muda Indonesia agar sadar bahwa diabetes, khususnya diabetes tipe 2 semakin banyak menyerang anak muda, khususnya di Asia.

Sebuah review yang dipublikasikan pada jurnal Endocrinology and Metabolism menyatakan bahwa usia seseorang terdiagnosis diabetes diketahui lebih muda pada orang Asia, dibandingkan dengan orang Amerika dan Eropa.

“Penelitian lain menunjukkan bahwa satu dari lima penderita diabetes yang dipelajari ternyata terdiagnosis terkena diabetes pada usia di bawah 40 tahun. Diabetes bisa dicegah apabila anak muda Indonesia sadar akan risikonya serta menjalani gaya hidup sehat,” katanya.

Anak Muda Jalani Hidup Sehat

Yang menarik, kata dr Rudy Kurniawan dari sebuah survey independen yang berhasil menjaring 129 responden anak muda Indonesia berusia 20-34 tahun mengenai persepsi terhadap risiko diabetes, perubahan iklim dan hubungan antara keduanya ditemukan bahwa hanya 16,3% anak muda Indonesia yang percaya dirinya memiliki kemungkinan terkena diabetes sebesar 70-100%.

Ironisnya, 85,2% anak muda di Indonesia setuju dan sangat setuju bahwa perubahan iklim sudah terjadi. Namun hanya 47,3% anak muda di Indonesia setuju dan sangat setuju bahwa ada hubungan antara perubahan iklim dan diabetes.

Baca Juga: Tak Punya Biaya Berobat, Gadis Ini Enam Bulan Terbaring di Tempat Tidur

Data ini mengindikasikan bahwa kesadaran anak muda akan lingkungan terkait perubahan iklim lebih tinggi dibandingkan dengan kesadaran akan risiko diabetes. Padahal diabetes bisa dicegah apabila anak muda Indonesia sadar akan risikonya serta menjalani gaya hidup sehat.

“Oleh karena itu, Sobat Diabet dan Tropicana Slim secara konsisten berusaha meningkatkan kesadaran akan risiko diabetes di kalangan,” ujarnya. (*/ndo)

Berita Terkait