Cerita Pendek: Sepotong Cinta yang Dusta
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 23 Jan 2023
- visibility 4.937
- comment 0 komentar

Kartini gembira. Akhirnya ia dapat menepati janjinya bertemu dengan kekasihnya. Sore itu tanpa diantar Karjo, sopir pribadi keluarga majikannya, Kartini keluar gerbang rumah. Ia menyusuri jalan dengan senyum–senyum sendiri. Sesekali ia merundukkan kepalanya menghindari palang jalan. Seolah tak diijinkan lewat kendaraan yang berbak tinggi. Hanya sedan dan sejenisnya yang dapat memasuki palang itu, selebihnya harus berurusan dengan satpam.
Semerbak aroma deodoran dan serpihan bedak yang melapisi wajah Kartini mengubah senja menjadi semakin penuh gairah. Dengan balutan celana jeans dan di atas jingkat sendal selop Kartini melangkahkan kakinya. Di atas kepercayaan janjinya, Agus akan menjemputnya di pertigaan.
***
“Aku telah melakukan dosa. Ah, bagaimana jika kedua orang tuaku mengetahui. Oh Bapak, anakmu telah melanggar nasehatmu?” Desah Kartini dalam hati. Tapi dekapan manja tangan Agus membuat ia tak dapat menolak segalanya termasuk hari ini. Yang ada hanyalah gelora hasrat purba yang mendorong mereka terus bergumul layaknya sepasang kuda yang dilanda birahi.
“Apa kau tidak malu berhubungan denganku yang seorang pembantu, Mas?” Kartini merebahkan tubuhnya pada dada Agus.
“Aku menerimamu apa adanya.”
“Aku mulai ragu pada hubungan kita?”
“Apa yang kamu ragukan?”
“Suatu saat Mas akan meninggalkanku.”
“Itu kekhawatiran yang berlebihan.”
“Aku takut, Mas.”
“Takut apa?”
“Kau hanya mempermainkanku.”
“Aku sangat mencintaimu!”
Kata-kata itu yang membuat Kartini tenang kembali. Agus selalu dapat menenangkan hatinya yang gundah, kalut, sedih, dan marah. Setiap persoalan yang ia alami selalu saja Agus dapat menyelesaikannya. Bagi Kartini, Agus adalah curahan terakhir untuk mengadu. Ia segalanya bagi Kartini, dan semua keraguan atasnya pupus setelah bijak kata Agus menelusup batinnya.
“Tapi orang tuamu apakah akan setuju?” Agus terdiam. Ditatapnya mata Kartini dalam-dalam. Kata-kata yang demikian lancar keluar dari mulutnya seolah tersekat.
“Mereka pasti setuju. Aku sudah katakan dan mereka tak keberatan. Setelah menjadi istriku, kita akan tinggal di mana saja kau suka.”
Lagi-lagi keyakinan Kartini akan hari depannya saling terjalin membentuk gugusan cerita yang panjang dan utuh. Sepertinya ia melihat masa depan yang cerah. Masa depan seorang gadis kampung yang merantau ke kota dan bertemu orang yang menjadi tambatan hatinya. Harapan untuk masa depan adalah kewajaran dan tak berdosa memiliki harapan yang berlebihan.
***
“Mas Agus memakai uang saya dulu. Saya masih punya tabungan, dan sedang tidak membutuhkannya. Mungkin bisa membantu sedikit keperluan.” Agus menolak. Namun akhirnya setengah terpaksa menerima uang yang disodorkan Kartini.
“Dari mana kau dapatkan uang sebanyak ini?” Kartini tergagap mendengar pertanyaan yang sebenarnya ia telah duga. Ia mencoba menguasai keadaan dan mengarahkan pembicaraan ke arah lain.
“Bagaimana keadaanmu, Mas?”
“Kau belum jawab pertanyaanku, Tin?”
“Itu tabunganku yang dipinjam dan kebetulan dikembalikan. Sudahlah Mas, jangan tanya dari mana aku dapat uang, yang penting bisa menambahi kekurangan.” Tiba-tiba Kartini merasakan kepalanya mulai pusing. Agus hanya mengernyitkan dahi melihat kekasihnya muntah-muntah.
“Kamu terlalu capek Tin,”
Agus mengusap rambut Kartini. Suasana senyap. Agus terharu, Kartini dipeluknya dengan erat. Kartini menikmati pelukan itu dengan pasrah menyerahkan segala senyap untuk kekasihnya. Kamar tiga kali tiga itu menjadi saksi pergumulan dua manusia yang saling mencinta dengan definisinya masing-masing. Keharuan itu berubah menjadi panas yang menyelinap dalam benak. Maka yang terjadi, terjadilah.
Setelah malam itu Kartini dan Agus tidak saling bertemu, menjaga jarak agar kerahasiaan hubungan mereka tetap terjaga. Agus kembali dengan dunianya kampusnya dan Kartini tetap berada di rumah majikannya menghitung hari sambil membayangkan hari-hari yang dilewati. Namun setelah lama berpikir ia kembali ragu terhadap jalinan yang ia jalani bersama kekasihnya.







Saat ini belum ada komentar