Cerita Pendek: Sepotong Cinta yang Dusta
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 23 Jan 2023
- visibility 4.936
- comment 0 komentar

Sebuah radio melantun sajak kerinduan yang mengalun sayup-sayup. Malam itu Kartini tak dapat memejamkan mata. Dipandanginya dengan lekad foto Agus yang berjas hitam lengkap setelan kemeja putih dengan dasi warna merah, begitu tampan.
Kepada sosok dalam foto itulah Kartini mengantungkan angan-angannya. Lagu itu seperti memperingatkan betapa jauh hubungan yang telah mereka lakukan. Juga tentang kepalanya yang akhir-akhir ini pening dan perutnya yang seringkali mual. Itulah malam terakhir ia dengarkan radio di rumah majikannya.
***
Lampu yang bersinar temaram melukis bayang-bayang Kartini yang merebah. Matanya menerawang lagit-langit. Ia seperti mengingat satu persatu kisah cintanya yang membuat ia begitu nekat melakukan hal yang ia sendiri tak pernah membayangkan.
Apakah ini kekuatan cinta, atau buah dari nafsu. Ah cinta dan nafsu begitu tipis jaraknya. Dalam kesendirian hanya ada lamunan. Satu persatu kejadian demi kejadian melintas. Setelah pikirannya melompat menuju masa yang akan terjadi, tiba-tiba saja kembali lagi merunut hari-hari yang ia jalani.
Kartini teringat bapaknya di kampung. Di sebuah dukuh yang diapit bukit tandus dan gugusan jati yang meranggas. Kampung di atas batu-batu padas, yang kala kemarau ditaburi debu-debu yang mengecat atap-atap rumah mereka begitu putih. Sedangkan persawahan tak dapat ditanami apapun.
“Semua laki-laki memang bajingan!” Kartini tiba-tiba berteriak histeris seraya mengingat bagaimana dia menghabisi nyawa kekasihnya.
“Kartini! Kartini!!! Ayo kerja!” teriak sipir penjara.
Yogyakarta, 2009
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Sepotong Cinta yang Dusta”







Saat ini belum ada komentar