Cerita Pendek: Sepotong Cinta yang Dusta
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 23 Jan 2023
- visibility 4.935
- comment 0 komentar

Cerpen Ondo Supriyanto
“Cinta diawali saling pandang dibumbui sedikit kebohongan, mengalir dari mata lalu ke hati hingga bermuara di ujung birahi”
SUARA sapu berderit disusul kepulan debu yang tak begitu terlihat. Pagi belum begitu sempurna. Hawa dingin pun masih menyelimuti halaman sebuah rumah megah. Sebagian besar penghuninya masih terlelap. Hanya Kartini yang sudah mulai berkeringat. Ia mendongak sesaat ketika sebuah sepeda motor buatan tahun 70-an berhenti di depan gerbang. Kartini mengambil dan meletakkan sebuah koran di beranda setelah seorang loper memberikan kepadanya.
Ia kembali menuntaskan pekerjaannya. Selesai menyapu ia sempatkan membolak balik surat kabar dan kemudian menutupnya kembali. Berbagai tugas telah menantinya; menyiapkan sarapan pagi, mengurus persiapan sekolah kedua anak majikannya.
Lalu setelah rumah itu ditinggalkan penghuninya ia mulai membersihkan ruang tamu, menyapu, dan mengepel hingga lantai granit itu putih mengkilap. Di atas kepiawaian tangan Kartini itulah seluruh perabot rumah itu diletakkan.
Kartini mengumpulkan beberapa pakaian yang teronggok ke dalam bak cuci. Biasanya tumpukan itu baru ia selesaikan ketika teriak anak-anak majikannya menjerit-jerit tanda mereka pulang. Belum lagi rasa lelahnya hilang ia menyiapkan hidangan untuk makan siang. Bagi Kartini kewajiban harus dilaksanakan. Toh jika tak ada yang makan ujung-ujungnya ia sendiri yang menghabiskan.
Baru setelah beres-beres dapur ia punya waktu luang sejenak. Sebentar ia istirahat di kamarnya. Namun baru matanya bergelayut ia teringat cuciannya yang kering dan tugasnya untuk menyeterika helai demi helai pakaian itu sampai rapih. Padahal malam itu ia teringat pertemuannya dengan Agus. Ia tak mau kali kencannya mendapat kesan buruk di mata laki-laki pujaannya.
Setelah berpikir dengan dahi mengkerut akhirnya Kartini manggut-manggut. Sembari menyeterika hem panjang itu tangannya mengusap butiran keringat yang mengumpul dan menetes di pakaian. Buru-buru ia menggilasnya dengan gesutan seterika hingga butiran-butiran itu mengering, menambah mengkilap dan halus baju.
“Saya minta ijin, Nyonya?” Kartini menghadap majikannya.
“Mau apa,”
“Menengok teman sekampung yang sakit, Nyah?”.
“Kok tiba-tiba, Tin?” Perempuan beranak dua itu masih memperhatikan majalah di tangannya, membolak-balik lalu meletakkannya di atas meja.
“Iya Nyah. Saya baru dapat kabar tadi pagi. Rencananya nanti sore dan mungkin besok baru pulang.” Kartini pamit majikannya.
“Lalu yang membereskan pakaian, siapa?”
“Ah, sudah saya seterika semua, jadi boleh ya, Nyah.”
“Diantar Karjo, ya Tin”
“Nggak usah, Nyah.” Kartini tergeragap.
Majikan Kartini berdiri. Setelah berpikir sejenak perempuan itu mengangguk-angguk, pertanda mengijinkan.







Saat ini belum ada komentar