Mengenang Pendakian Gunung Slamet, Sebuah Catatan Usang dari 12 Tahun Silam (1)
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Rab, 14 Jan 2026
- visibility 364
- comment 0 komentar

Pos Plawangan Gunung Slamet jalur pendakian Bambangan. (Foto: Hari)
MEDIA sosial dalam 24 jam terakhir cukup ramai dengan berita ditemukannya jenazah almarhum Syafiq Ali (18) di Gunung Slamet Jawa Tengah, yang telah hilang selama 17 hari. Turut berdukacita sedalam-dalamnya.
Sebagai seorang yang pernah hobi naik gunung, memori di kepala lantas memutar rekaman usang gambaran-gambaran di sana. Yang masih teringat jelas tidak lain dan tidak bukan adalah pendakian terakhir saya ke Gunung Slamet sekitar 12 tahun lalu.
Jumat 10 Januari 2014
Usai Jumatan, saya bergegas menuju perempatan bakso urip, tempat ngetem angkutan umum yang mengantarkan saya ke rest area Wonosari. Siang itu saya memilih menggunakan bus efisiensi dengan pertimbangan akan bertemu rekan seperjalanan di terminal bus Purwokerto.
Rekan seperjalanan saya kali ini adalah Kang Jo Heru Jo, alumni Gaspala Smanda angkatan 2 (1995) yang lebih memilih naik kereta dari Jakarta.
Sore sekitar waktu asar, kami bertemu di pintu keluar terminal. Angkutan terakhir menuju Bobotsari masih ngetem menunggu penumpang.
Setelah bertemu dan basa-basi, akhirnya kami naikkan muatan kami ke mini bus terakhir. Cukup besar juga rupanya muatan kami itu.
Perjalanan menuju pos pendakian dimulai ketika mobil kami bergerak sekitar jam 5 sore. Setelah sekitar satu jam perjalanan akhirnya kami sampai juga di pertigaan Serayu dengan ongkos Rp25.000 per orang.
Perjalanan dilanjutkan dengan menyewa (carter) mobil ke basecamp Bambangan yang hanya ditumpangi saya dan Kang Jo. Karena memang saat itu tidak ada angkutan umum menuju ke basecamp dan tidak ada pendaki lain.
Setelah sedikit negosiasi dan belanja seperlunya di warung dekat pertigaan, akhirnya kami sepakat membayar Rp150.000 untuk sekali jalan dari pertigaan Serayu menuju basecamp pendakian Bambangan di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga.
Perjalanan menelusuri jalanan kecil yang berkabut dan hujan rintik itu akhirnya berakhir pada pukul 20.30 dan langsung saja kami mendaftarkan diri dengan biaya administrasi saat itu Rp.5000 per orang.
Perjalanan kami hari pertama itu diakhiri dengan makan malam dan bongkar muatan untuk dipacking ulang saat mau mendaki. Istirahat.
Sabtu 11 Januari 2014
Pagi itu suasana masih terlihat sepi di basecamp yang memang tidak ada pendaki lain yang menginap di sana. Sampai akhirnya kedatangan dua pendaki dari Jakarta dan Bekasi pagi itu saat kami sedang memesan sarapan pagi.
Pendakian dimulai sesaat setelah kami selesai packing dan sarapan serta melihat pemandangan ke arah puncak yang tampak cerah dari depan basecamp.
Sekitar pukul 08.15 kami melangkahkan kaki menyusuri jalan beraspal, masuk ke perkebunan dan mengambil jalur kearah kanan setelah jembatan kecil yang merupakan rute awal pendakian.
Setelah menyusuri jalan perkebunan dan ladang penduduk, kami mulai memasuki kawasan hutan bawah dan terus mengikuti setapak yang ada.
Sambil sesekali bercanda dan berfoto, kami lalui perjalanan tersebut hingga akhirnya sampailah di Pos 1 yang kini telah menjelma sebagai pos pendakian dengan bangunan cukup luas.
Kami cukup lama istirahat di Pos 1, ada sekitar satu jam lebih, hingga akhirnya kami berjumpa dengan banyak pendaki dari Bogor, Bekasi, Cilacap, dan Purwokerto. Setelah lewat tengah hari kami lanjutkan perjalanan.
Memasuki hutan dengan rute yang terus menanjak, kami menikmati pemandangan dan perjalanan di sana.
Perjalanan terus dilanjutkan melewati Pos 2, Pos 3, dan Pos 4 dengan santai sambil menikmati pemandangan alam. Setelah Pos 4 menuju ke Pos 5 kabut mulai datang dan hujan mulai membasahi jalur dan tubuh kami.
Ketika itu Kang Jo memaksakan untuk mengejar Pos 5 karena menurutnya lokasi sudah dekat. Akhirnya saya biarkan dia berjalan di depan terlebih dahulu. Sedangkan saya masih duduk istirahat di pinggir jalur karena sudah mulai kelelahan.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 16.30 ketika saya tiba di Pos 5. Di sini terdapat mata air yang bisa dimanfaatkan oleh pendaki.
Kami memutuskan untuk bermalam di Pos 5 yang mengakhiri pendakian hari pertama kami. Saat itu hujan mulai turun lagi. Setelah salat magrib, kami memasak air dan makan siang yang tertunda di waktu petang dilanjutkan dengan tidur.
Saya lebih suka mengistilahkan tidur dengan meluruskan badan. Mungkin kalau sekarang rebahan ya? (bersambung) Makin Tahu Indonesia

Di depan basecamp Bambangan. (Foto: Hari)

Di Pos 1 jalur Bambangan. (Foto: Hari)

Bertemu pendaki lain. (Foto: Hari)

Menuju Pos 3. (Foto: Hari)







Saat ini belum ada komentar