Prabowo Tinggalkan Jokowi Menuju Kepemimpinan Berdaulat dalam 100 Hari Kerja
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 27 Jan 2025
- visibility 2.935
- comment 0 komentar

Presiden Joko Widodo bersama Prabowo Subianto di ruang Jepara, Istana Merdeka, Jakarta Jumat, 11 Oktober 2019 (Image By BPMI Setpres/Lukas
Kritik terhadap Prabowo juga muncul dari pengamat seperti Dr. Ridwan Fawallang, Ketua Perhimpunan Rakyat Progresif Sulawesi Selatan. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap susunan kabinet Prabowo, yang menurutnya 75% diisi oleh loyalis Jokowi. Kondisi ini dianggap sebagai indikasi bahwa pemerintahan Prabowo hanya akan menjadi kelanjutan era Jokowi tanpa perubahan signifikan.
Muhammad Said Didu, mantan Sekretaris BUMN, menyoroti pengambilalihan Partai Golkar oleh Jokowi sebagai strategi untuk memperpanjang pengaruh politiknya. Dengan menguasai Golkar, Jokowi dinilai mampu mempertahankan dominasi politik melalui kontrol terhadap pemerintahan Prabowo. Kehadiran Gibran sebagai wapres memperkuat persepsi bahwa Prabowo akan menjadi boneka dalam sistem politik yang tetap didominasi oleh Jokowi.
Intervensi Jokowi dalam momentum Pilkada di Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Jawa Timur menunjukkan dominasi dan kontrolnya terhadap dinamika politik lokal dan nasional. Strategi ini mempersulit Prabowo untuk membangun jalur independen dalam pemerintahan, karena banyak kebijakan yang telah dipengaruhi oleh aktor-aktor politik pro-Jokowi. Dengan demikian, intervensi ini semakin memperkuat narasi bahwa Prabowo tidak sepenuhnya otonom dalam menjalankan tugas kenegaraan. Gabungan faktor-faktor ini menunjukkan bahwa persepsi publik tentang Prabowo sebagai “boneka Jokowi” bukanlah sekadar spekulasi, tetapi didukung oleh serangkaian fakta dan analisis yang perlu dijawab secara tegas melalui langkah-langkah nyata.
Meninggalkan Jokowi demi Persatuan Nasional
Menurut data litbang Kompas survey pada januari 2025 tingginya kepuasaan masyarakat yang mencapai 80,9% terhadap kinerja Prabowo Subianto menjadi modal terbesar bagi Prabowo menuju 2029, artinya Prabowo sudah tidak memerlukan Jokowi untuk sampai hingga terpilih kembali pada perhelatan pilpres 2029 mendatang, hanya saja Prabowo Subianto haruslah menjadi dirinya sendiri sebagaimana yang telah lama ia bangun di publik sebagai seorang yang mencintai Soekarno dan memperagakan hingga penampilannya Bung Karno, berikutnya gagasan-gagasan besar Bung Karno pun tak ketinggalan senantiasa menjadi ruh bagi Prabowo Subianto.
Langkah-langkah meninggalkan Jokowi menjadi salah satu solusi untuk membangun pemerintahan yang independen dan berorientasi pada persatuan nasional. Prabowo perlu mengambil sikap tegas dengan memisahkan diri dari pengaruh politik Jokowi yang dinilai mendominasi kebijakan strategis. Dalam pandangan Dr. Muhammad Yunus, pakar politik Universitas Indonesia, dalam buku Kepemimpinan dalam Krisis tahun 2022, keberanian politik untuk membangun identitas kepemimpinan yang mandiri adalah kunci dalam meraih kepercayaan rakyat.
Selain itu, Prabowo harus memperkuat legitimasi pemerintahannya dengan merancang kebijakan yang benar-benar berorientasi pada rakyat. Menurut Amartya Sen dalam bukunya Development as Freedom, pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu mendorong kebijakan untuk kebebasan dan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini sangat relevan bagi Prabowo untuk merebut kembali narasi tentang kepemimpinannya yang independen serta berdaulat.







Saat ini belum ada komentar