Menjembatani Cita dan Fakta dalam Debat Pamungkas Pilgub Jawa Tengah 2024: Perspektif Fenomenologi Husserl
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 22 Nov 2024
- visibility 2.092
- comment 0 komentar

Debat ketiga paslon gubernur dan wakil gubernur Jateng. (Foto: KPU Jateng)
Sementara itu, Ahmad Luthfi menonjolkan cita-cita moral dan sosial yang lebih berbasis pada pengalaman kolektif masyarakat, namun kurang mampu menghubungkan pengalaman ini dengan fakta-fakta konkret yang dapat diselesaikan melalui kebijakan praktis. Fenomenologi Husserl mengingatkan kita bahwa pengalaman sehari-hari masyarakat tidak hanya bisa dilihat dari aspek sosial atau moral semata, tetapi juga harus memperhitungkan kebutuhan praktis yang nyata, seperti kesejahteraan ekonomi, akses pendidikan, dan teknologi.
Dalam perdebatan ini, Andika Perkasa mungkin lebih berhasil dalam menjembatani cita-cita ideal dan fakta lapangan dengan solusi yang aplikatif dan berbasis pengalaman konkret masyarakat. Namun, pendekatan teknokratisnya perlu lebih sensitif terhadap dimensi sosial dan moral yang menjadi bagian dari pengalaman kolektif masyarakat.
Sebaliknya, Ahmad Luthfi berfokus pada pengalaman sosial yang lebih subjektif, yang meskipun bernilai, membutuhkan keterhubungan dengan solusi praktis untuk dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Fenomenologi Husserl, dengan fokus pada pengalaman hidup yang otentik, menunjukkan bahwa keduanya perlu mengintegrasikan lebih dalam antara narasi moral dan realitas sosial agar dapat memberikan solusi yang komprehensif bagi masyarakat Jawa Tengah.
Penulis: Bung Kafi, Alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Aktivis NU, dan Kader PDI Perjuangan.







Saat ini belum ada komentar