RMU Kutowinangun Belum Optimal, Bank Mandiri dan Bupati Bahas Optimalisasi Pengolahan Beras Kebumen

KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Unit Penggilingan Padi (Rice Milling Unit/RMU) modern di Kutowinangun, Kebumen, yang diresmikan pada tahun 2021 dengan harapan meningkatkan efisiensi dan nilai tambah bagi petani, ternyata belum beroperasi secara optimal.

Mesin-mesin canggih yang seharusnya berputar tanpa henti untuk mengolah gabah menjadi beras berkualitas, justru seringkali berhenti karena minimnya pasokan bahan baku.

Situasi ini mengemuka dalam audiensi antara jajaran Bank Mandiri dan Bupati Lilis Nuryani, Kamis 26 Juni 2025, yang membahas program kewirausahaan petani dan ketahanan pangan di Kebumen.

Audiensi yang berlangsung di ruang kerja bupati ini dihadiri oleh Senior Vice President Government Project Bank Mandiri Hendrianto Setiawan dan Vice President Government Project Bank Mandiri Ari Wita Pinem.

Adapun dari pihak Pemerintah Kabupaten Kebumen, hadir Sekretaris Daerah, Kepala Bapperida, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah, serta Direktur BUMD Aneka Usaha.

Hendrianto Setiawan mengungkapkan bahwa kedatangan mereka adalah untuk beraudiensi terkait program kewirausahaan petani dari Bank Mandiri, khususnya mengenai efektivitas RMU di Kebumen yang merupakan bagian dari program CSR Bank Mandiri.

“Kami berharap mendapatkan dukungan dari Bupati dan Pemkab untuk mewujudkan kemandirian petani, termasuk meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Kebumen,” ujarnya.

Bank Mandiri juga mendorong agar program ini melibatkan tenaga ahli dan SDM lokal Kebumen.

Sementara itu Direktur PT Aneka Usaha, Wahyu Sugiantoro, secara lugas mengakui bahwa operasional RMU selama ini belum optimal.

“Seharusnya mesin berputar terus, tapi berhenti. Kalau terhenti kan ada pembersihan. Nah, kalau bisa optimal mesin muter terus, maka lebih baik,” jelas Wahyu.

Permasalahan utama yang dihadapi adalah kurangnya input atau jumlah gabah yang disalurkan ke RMU.

“Kalau kualitas semua bisa masuk. Maka kalau kita bisa rutin, kerja sama dengan petani untuk penyerapan diolah di situ, maka lebih baik” imbuhnya, mengisyaratkan potensi besar jika pasokan gabah dapat terjamin.

Pada tahun 2024, BUMD Aneka Usaha baru mampu memproduksi sekitar 170 ton beras dari RMU Kutowinangun. Beras hasil olahan tersebut kemudian dijual melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) di daerah maupun disalurkan ke food station di Jakarta.

Untuk mengoptimalkan RMU, Pemerintah Daerah sebelumnya telah menggandeng BUMD Aneka Usaha agar dapat mengelola gabah dari petani untuk digiling di RMU, namun koordinasi dan pasokan masih menjadi tantangan.

Optimalisasi RMU Kutowinangun tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan petani dan BUMD, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan pangan lokal.

Dukungan penuh dari pemerintah daerah, sinergi dengan berbagai pihak, serta peningkatan koordinasi dengan petani untuk menjamin pasokan gabah yang kontinu, diharapkan dapat menjadi kunci bagi berputarnya roda perekonomian dan pengolahan padi di Kebumen secara maksimal.

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News

Suka menulis, membaca dan berpetualang.

Update Lainnya