Pekerja Migran Jadi Sasaran Paham Radikalisme, Media Sosial Jadi Pintu Masuknya
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 8 Des 2024
- visibility 563
- comment 0 komentar

Senior Program Manager Migrant Care Mulyadi. (Foto: Istimewa)
Senior Program Manager Migrant Care Jakarta Mulyadi mengingatkan bahwa tindakan sekecil menyukai atau memberikan donasi pada konten radikal di media sosial dapat berakibat fatal.
“Penting bagi PMI untuk mewaspadai segala bentuk propaganda radikalisme,” tegasnya.
Media Sosial Jadi Pintu Masuk Radikalisme
Cak Mul, sapaan karibnya menambahkan bahwa sosialisasi itu dilakukan, guna melakukan pencegahan sejak dini masuknya tindakan-tindakan ekstrimisme berbasis kekerasan kepada para pekerja migran.
“Kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya pencegahan sejak dini upaya atau tindakan-tindakan ekstrimisme berbasis kekerasan,” kata Cak Mul.
Melalui sosialisasi ini dapat memberikan pemahaman akan prinsip keberagaman, toleransi, Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), dan inklusifitas sebagai dasar untuk mengurangi potensi ekstremisme kekerasan. Juga memberikan pemahanan cara-cara pencegahan ekstrimisme berbasis kekerasan di tingkat komunitas.
Baca Juga: Migrant Care Kebumen Gelar Dialog dengan Calon Bupati dan Wakil Bupati, Ini Hasilnya
Lebih lanjut, Cak Mul menambahkan, pintu masuk paham radikalisme ini banyak yang berupa tontonan di laman media sosial, maupun pemahaman beragama yang salah. Untuk itu, hal tersebut perlu dicegah sejak dini, agar buruh migran Indonesia terlindung dari paham terorisme dan bisa bekerja dengan baik di negara tujuan mereka.
“Upaya-upaya ini perlu disebarluaskan secara masif kepada masyarakat supaya tidak ada lagi pekerja migran kita yang terpapar kepada ekstrimisme yang berbasis terorisme,” jelasnya.
Di beberapa negera aturannya sangat ketat. Jika ada pekerja migran yang mengikuti atau meng-like atau memberikan donasi dana dapat dikategorikan terpapar paham ekstrimisme.
“Pentingnya pengetahuan tersebut. Jangan sampai rasa solidaritas sesama justru menjebak ke paham ekstrimisme,” ujarnya.







Saat ini belum ada komentar