Olahraga Tak Bisa Lepas dari Politik, Belajar dari Soeratin Hingga Erick Thohir
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Sab, 2 Nov 2024
- visibility 995
- comment 0 komentar

Diskusi Terbuka: Membangun Masa Depan Sektor Olahraga Daerah. (Foto: Hari Satria)
Bos Seno, sapaan akrabnya mengaku prihatin ketika tim Persak Kebumen akan ikut berkompetisi namun terganjal dengan tidak lolosnya Stadion Chandradimuka sebagai homebase-nya karena tidak lolos verifikasi PSSI.
“Waktu itu homebase-nya ganti di Magelang dan Temanggung. Padahal dengan sepakbola yang merupakan olahraga paling populer, bisa menjadi penggerak ekonomi. Dengan sendirinya Kebumen akan terangkat,” katanya seraya berharap pemerintah dapat memperhatikan anggaran di bidang olahraga.
Soeratin Sosrosoegondo
Beberapa peserta yang hadir turut bersuara pada diskusi kali ini. Di antaranya dari cabang pencak silat, balap motor, dan futsal. Mulai dari iuran yang dibebankan pada atlet, akomodasi ketika mengikuti Popda/Porprov, hingga kurangnya sarana prasarana olahraga.
Senada dengan HM Tursino, Fauhan Fawaqi mengungkapkan bahwa olahraga khususnya sepakbola tidak lepas dari politik. Bukan hal baru jika sekarang olahraga juga dibicarakan untuk terlibat dalam politik.
Baca Juga: Kota Semarang Juara Umum Porprov Jateng 2023, Ini Peringkat Kebumen
Tidak hanya pendulang suara, tapi benar-benar berjuang seperti yang dilakukan Soeratin Sosrosoegondo. Pendiri sekaligus ketua umum PSSI tersebut turut terlibat dalam pengambilan kebijakan yang akan diambil pemerintah pada masa itu.
Sedangkan Fuad Habib menjelaskan, pengembangan olahraga daerah sangat berkaitan dengan cita-cita Indonesia emas 2045. Jadi bidang olahraga sangat berkaitan untuk menopang sumberdaya manusia.
“Indonesia emas tidak akan terwujud tanpa adanya SDM yang unggul dan sehat,” kata Fuad Habib.







Saat ini belum ada komentar