Kisah Tino, Korban TPPO Asal Kebumen yang Berhasil Lolos dari Kamboja dan Pulang ke Kampung Halaman
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 59 menit yang lalu
- visibility 56
- comment 0 komentar

Tino, korban TPPO asal Kebumen yang berhasil lolos dari Kamboja menyampaikan terimakasih kepada Bupati Lilis Nuryani. (Foto: Hari)
KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Pemerintah Kabupaten Kebumen melalui Dinas Tenaga Kerja dan instansi terkait berhasil memfasilitasi kepulangan Tino, warga Jatisari, Kebumen, yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Kamboja.
Setelah melalui proses repatriasi, Tino akhirnya tiba kembali di kampung halamannya, Senin 21 September 2026.
Kepulangan ini merupakan wujud komitmen nyata Bupati Kebumen Lilis Nuryani, yang sebelumnya telah mendatangi langsung kediaman keluarga Tino enam hari sebelumnya untuk memastikan proses pemulangannya berjalan lancar.
Pengalaman pahit menimpa Tino setelah ia tergiur oleh tawaran pekerjaan di media sosial Facebook.
Sebagai penyandang disabilitas yang kesulitan mencari pekerjaan di dalam negeri, ia nekat berangkat secara ilegal bersama sekitar 20 orang lainnya tanpa sepengetahuan orang tuanya, sebelum diterbangkan secara bertahap ke Kamboja.
Setibanya di Kamboja di bawah kendali bos berkebangsaan asing, Tino dipekerjakan selama 15 jam sehari sebagai pembuat spam judi online dengan iming-iming gaji 200 dolar AS.
Namun, gaji tersebut kerap dipotong jika target tidak tercapai. Ia mengaku kaget, tidak siap mental, dan tertipu karena awalnya tidak tahu bahwa pekerjaan tersebut berkedok scam dan judi online.
Selama berada di perusahaan tersebut, Tino menyaksikan berbagai kengerian. Ia melihat rekan kerja yang nekat mengakhiri hidup serta mengalami ketakutan setelah sempat mencari informasi tentang penjualan organ tubuh manusia di komputer kantor.
Merasa tertekan dan tidak tahan karena kondisi fisiknya yang sakit, Tino bersama 15 orang lainnya nekat kabur melarikan diri ke hutan.
Ia bahkan harus dibantu menggunakan tongkat dan digendong selama bertahan di hutan selama dua hari satu malam sebelum akhirnya bertemu warga lokal.
Pelarian tersebut tidak berjalan mulus. Tino sempat ditangkap oleh tentara Kamboja dan diserahkan ke polisi imigrasi sebelum akhirnya dikembalikan ke kantor sindikat tersebut.
Selama ditahan di penjara Kamboja, kondisinya sangat memprihatinkan—ia bersama tahanan lain sempat tidak diberi makan selama dua hari, dan harus patungan membeli mi instan yang terpaksa dimakan mentah demi bertahan hidup.
Di penjara itu pula ia menyaksikan ketegangan antar-tahanan dari berbagai negara.
Penderitaan Tino baru mulai menemukan titik terang setelah ia berhasil menghubungi adiknya di Indonesia menggunakan akun media sosial yang kemudian menjadi jembatan bagi komunikasi dan kepulangannya.
Menanggapi kasus ini, Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyampaikan rasa syukur dan keprihatinan atas cobaan yang harus dialami oleh Tino. Ia mengapresiasi kerja sama berbagai pihak hingga proses repatriasi ini dapat berjalan dengan lancar.
“Kami bersyukur Mas Tino akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarga di Kebumen dalam keadaan selamat. Ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” ujar Bupati Lilis saat berdialog dengan korban di Rumah Berdaya kompleks Pendopo Kabumian.
Bupati Lilis kembali mengingatkan dan berpesan kepada masyarakat agar selalu memanfaatkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) jika ingin mencari pekerjaan di luar negeri agar legalitas dan keselamatannya terjamin.
Pemerintah Kabupaten Kebumen berharap kasus yang menimpa Tino ini menjadi yang terakhir kalinya terjadi di Kebumen.
Mendengar hal tersebut, Tino menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bupati Lilis serta jajaran Pemkab Kebumen seperti Dinas Tenaga Kerja dan Kesbangpol yang telah membantu memulangkannya. Tino juga mengungkapkan rasa syukurnya bisa kembali ke tanah air.
“Kalau semisalnya boleh memilih, berapapun hasil kerja di Indonesia, saya tetap mending di Indonesia daripada mengalami mimpi buruk di sana,” ujar Tino.
Berdasarkan pengalamannya yang terjebak sindikat internasional, Tino berpesan kepada masyarakat luas agar tidak mudah tergiur oleh tawaran kerja luar negeri melalui media sosial yang menjanjikan posisi di perusahaan judi online (judol) maupun scam. **Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar