175 Mahasiswa Keperawatan Stikes Muhammadiyah Gombong Dilatih Tangani Penderita Gawat Darurat, Ini Materi yang Dipelajari
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 17 Jan 2020
- visibility 3.034
- comment 0 komentar

Peserta pelatihan praktik penanganan gawat darurat. (Foto: Dok. Stimugo)
GOMBONG (KebumenUpdate.com) – Basic Trauma and Cardiovascular Life Support (BTCLS) atau Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang perawat. Bahkan sertifikasi kompetensi ini menjadi salah satu persyaratan saat seorang perawat hendak bekerja di lembaga layanan kesehatan.
Untuk itu, meski telah mendapatkan materi BTCLS di bangku perkuliahan, para mahasiswa keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Gombong yang telah menyelesaikan teori, secara khusus mendapatkan pelatihan tersebut.
Gandeng MGEC, Pelatihan Digelar Dalam Tiga Gelombang

Peserta praktik penanganan gawat darurat. (Foto: Dok. Stimugo)
Sebanyak 175 peserta mengikuti pelatihan BTCLS atau PPGD yang digelar oleh Program Studi S1 Keperawatan Stikes Muhammadiyah Gombong. Pelatihan selama empat hari itu menghadirkan para instruktur dari lembaga pelatihan Muhammadiyah Gombong Education and Training Center (MGEC).
Pelatihan terbagi dalam tiga gelombang. Gelombang I dimulai 9-12 Januari 2020 diikuti oleh 78 peserta terdiri atas 75 mahasiswa S1 Keperawatan dan tiga orang perawat dari lembaga pelayanan kesehatan. Gelombang II pada 16-19 Januari, pelatihan diikuti 64 peserta dan gelombang III pada 23-26 Januari 2020 diikuti sebanyak 33 peserta.
Selama empat hari, para peserta pelatihan mendapatkan materi dari para instruktur MGEC yang dipimpin Ketua MGEC dr Eva Delsi Sp EM. Materi disampaikan dalam bentuk materi kelas, praktik maupun simulasi.
Apa Saja Materi yang Dipelajari Selama Pelatihan?

Instruktur mendampingi peserta melakukan simulasi penanganan gawat darurat menggunakan peralatan. (Foto: Dok. Stimugo)
Hari pertama, para peserta mendapatkan materi penatalaksanaan pasien akibat trauma kepala dan spinal, thorax dan abdomen, acute coronary syndrome (ACS) dan terapi listrik, penatalaksanaan kegawatdaruratan kardiovaskuler (cardiologi dasar), penilaian awal dan penatalaksanaan pasien dengan gangguan pernafasan dan jalan nafas.
Kemudian hari kedua, diberikan materi sistem penggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT), penatalaksanaan evakuasi dan rujukan, trauma ekstremitas dan muskuloskeletal. Selain mendapatkan materi keterampilan khusus evakuasi dan transportasi, airway breathing, stabilisasi. Para peserta juga mendapatkan materi etik dan aspek legal etik keperawatan gawat darurat yang disampaikan oleh Ketua DPD PPNI Kebumen.
Pada hari ketiga, materi penatalaksanaan pasien dengan gangguan sirkulasi, syok assesment dan managemen, penatalaksanaan pasien akibat trauma luka bakar. Pada hari ketiga dan keempat peserta praktik melakukan penanganan kasus gawat darurat termasuk bagaimana menggunakan peralatan medis.
Perawat Wajib Memiliki Kemampuan Menangani Kegawatdaruratan

Para peserta melakukan simulasi penanganan gawat darurat. (Foto: Dok. Stimugo)
Wakil Ketua 1 Bidang Akademik Stikes Muhammadiyah Gombong, Isma Yuniar MKep menjelaskan, tujuan pelatihan BTCLS ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesiapan para peserta dalam bidang penanganan permasalahan kegawatdaruratan.
“Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini peserta dapat mengaplikasikannya,” ujar Isma Yuniar didampingi Bagian Humas Stikes Ukis Erliwianto SE di sela-sela acara.
Ketua MGEC dr Eva Delsi Sp EM mengatakan, seorang perawat wajib memiliki kemampuan menangani kegawatdaruratan baik trauma atau tidak. Kompetensi tersebut juga perlu dimiliki orang umum seperti di perusahaan sehingga terlatih dan mumpuni dalam penanganan pasien kegawatdaruratan.
“Pelatihan semacam ini sangat penting utamanya bagi perawat untuk meningkatkan kompetensi dalam bidang penanggulangan penderita gawat darurat,” tandasnya. (ndo)








Saat ini belum ada komentar