Malika Farm Sukses Budidayakan Golden Melon dengan Sistem Fertigasi Hidroponik
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 28 Sep 2020
- visibility 8.212
- comment 0 komentar

Golden melon di Malika Farm Kebumen siap panen. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Berbagai inovasi di bidang pertanian terus dikembangkan demi memudahkanpetani dengan cara menerapkan sistem dan teknologi. Salah satunya adalah penggunaan sistem fertigasi atau fertilizer (pemupukan) dan irigation (irigasi).
Sistem fertigasi merupakan sistem pengairan tanaman dan pemupukan yang diberikan sekaligus melalui irigasi tetes. Salah satu metode penanaman dalam sistem hidroponik ini, larutan nutrisi diberikan melalui sistem irigasi.
Salah satu praktisi hidroponik asal Kebumen Nanang Eko Sulaksono (41) telah menerapkan sistem ini. Pemilik Malika Farm tersebut hampir setahun ini sukses membudidayakan golden melon dengan menggunakan sistem fertigasi hidroponik.
Golden Melon Malika Farm Siap Dipanen

Warna kuning golden melon di Malika Farm Kebumen. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
Di lahan seluas 200 m2 terdapat 308 polybag tanaman golden melon yang merambat vertikal. Media tanam menggunakan cocopeat sebagai pengganti tanah karena harga murah, ringan dan mudah digunakan. Dalam satu batang tanaman, disisakan satu butir melon berwarna kuning yang begitu ranum siap untuk dipanen.
“Iya, sekarang ini akan segera panen,” ujar Nanang Eko Sulaksono didampingi sang istri Kusmuthiah Hikmawati (36) saat ditemui di ‘green house’ Malika Farm Jalan Cemara Desa Karangsari, Kebumen, Minggu 27 September 2020.
Menurut Eko, secara normal buah golden melon sudah bisa dipanen di umur 65-70 hari setelah semai (HSS). Saat ini, Eko yang bergelut di bidang hidroponik sejak tahun 2013 sudah tiga kali panen golden melon dengan sistem fertigasi hidpronik.
Sistem Fertigasi Hidroponik Efisiensi Tenaga Kerja

Pemilik Malika Farm Nanang Eko Sulaksono turut merawat tanaman. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
Dijelaskannya, sistem Fertigasi merupakan salah satu dari metode hidroponik. Fertigasi merupakan teknik aplikasi unsur hara melalui sistem irigasi. Dengan teknik fertigasi biaya tenaga kerja untuk pemupukan dapat dikurangi, karena pupuk diberikan bersamaan dengan penyiraman.
“Dulu penyiraman dilakukan otomatis dengan digital timer, namun sekarang dilakukan secara manual,” imbuhnya.
Keuntungan lain adalah peningkatan efisiensi penggunaan unsur hara karena pupuk diberikan dalam jumlah sedikit tetapi lebih kontinyu. Juga mengurangi kehilangan unsur hara khususnya nitrogen akibat leaching atau pencucian dan denitrifikasi atau kehilangan nitrogen akibat perubahan menjadi gas.
Harga Buah Lebih Tinggi di Pasaran

Buah hasil budaya hidroponik memiliki harga lebih tinggi. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
Sistem fertigasi sangat sesuai bagi tanaman sayur berbuah saperti tomat, timun jepang, cabai merah, terung, melon, cabai sayur, strawberi dan juga tanaman hias. Selain itu, buah yang dikembangkan untuk tanaman yang bernilai tinggi di pasaran.
“Untuk harga buah golden melon dari petani Rp 20.000/kg. Sedangkan di supermarket harganya jauh lebih tinggi,” ujar salah satu pendiri Komunitas Hidroponik Kebumen ini menyebutkan rata-rata satu buah berat 1,8-2 kilogram.
Nanang mengaku, tidak ada kesulitan dalam memasarkan hasil panen. Bahkan saat hendak akan menyemai, sudah banyak orang yang memesan buahnya. Pihaknya juga mendapatkan penawaran hasil panen akan diborong oleh pemasok supermaket. Namun hasil panen saat ini masih untuk memenuhi permintaan pasar lokal.
“Masih prospektif jika ingin membudidayakan golden melon dengan sistem fertigasi,” ujarnya. (smn)








Saat ini belum ada komentar