Pementasan Dhealogy “Art for Art’s Sake” di Desa Semanding
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 13 Okt 2025
- visibility 887
- comment 0 komentar

Gelaran Dhealogy “Art for Art’s Sake” oleh Sanggar Dhea. (Foto: Istimewa)
“GERAK adalah doa, tubuh adalah bahasa.” Begitulah makna yang menjadi napas dari gelaran Dhealogy “Art for Art’s Sake”, sebuah pertunjukan tari dan teatrikal yang diselenggarakan oleh Sanggar Dhea pada Sabtu malam, 11 Oktober 2025, di Lapangan Mandala Krida, Desa Semanding, Kecamatan Gombong.
Acara ini menjadi event perdana mandiri Sanggar Dhea sebagai panggung besar yang merangkum perjalanan panjang sanggar yang telah berdiri sejak tahun 2001. Melalui program Dhealogy, Sanggar Dhea menegaskan pandangannya bahwa seni lahir dari tubuh manusia, tumbuh dalam jiwa, dan kembali kepada manusia, sebuah proses pencarian akan makna gerak sebagai doa, bahasa, dan kebebasan.
Didirikan oleh Desilia Santoso, yang akrab disapa Bu Lia, Sanggar Dhea selama ini aktif melatih tari tradisional dan kreasi, baik di rumah sang pendiri maupun di Roemah Martha Tilaar. Bersama putrinya, Cathlin Calista, mereka juga mengajar ekstrakurikuler tari di berbagai sekolah di Kabupaten Kebumen.
Tahun ini menjadi istimewa karena Cathlin, yang baru saja menyelesaikan studi S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, kembali menjadi pencetus sekaligus koreografer utama dalam puncak pertunjukan bertajuk “Jagawana: The Last Whisper of Earth.”

Refleksi Hubungan Manusia dan Bumi
Tarian tersebut menjadi refleksi mendalam tentang hubungan manusia dan bumi, sebuah ajakan untuk menyadari kembali bahwa nasib jagat raya berada di tangan kita. Melalui gerak dan ekspresi, seni menemukan cara untuk menuntun manusia yang sempat menghilang agar kembali menemukan dirinya. Dipadukan dengan elemen teatrikal yang dramatis, penampilan ini berhasil memukau penonton yang memenuhi Lapangan Mandala Krida Desa Semanding.
Secara keseluruhan, Dhealogy “Art for Art’s Sake” menampilkan 11 tarian dengan 80 penari dari berbagai jenjang usia. Ragam tarian yang dipentaskan mencakup tema tradisional dan kreasi, seperti Jaifuk, Lengger, dan Wercita, yang merepresentasikan kekayaan gerak sekaligus semangat muda para penari.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah Tari Ngerong, yang dibawakan oleh para ibu dari penari Sanggar Dhea.
“Saya sangat gembira bisa turut bergabung dalam penampilan kali ini. Kami berlatih selama kurang lebih tiga bulan dalam sesi khusus yang diberikan oleh Bu Lia,” ujar Bu Linda Sri Puji Astutiningsih, salah satu penari, yang biasanya hanya mengantar dan menjemput anak-anaknya ke sanggar.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Drs Raja Alfirafindra MHum, dosen ISI Yogyakarta, yang menyampaikan antusiasme dan dukungan besarnya terhadap acara ini sebagai langkah penting dalam membangun ekosistem seni di daerah.
Terwujudnya acara ini tidak lepas dari semangat gotong royong Karang Taruna Desa Semanding dan para relawan yang bergandengan tangan menciptakan panggung terbuka bagi ekspresi seni dan kebersamaan masyarakat.
Acara ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi para seniman untuk terus berkarya dan menghidupkan seni di tanah kelahiran mereka. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar