Jateng Peringkat 2 Wisata Ramah Muslim Nasional, Karanganyar Jadi Contoh Pengembangan Fasilitas
- account_circle Anindya Astadewi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 41
- comment 0 komentar

Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen menerima penghargaan dalam Indonesia Muslim Friendly Tourism Summit 2026 yang diegelar Bank Indonesia di Assembly Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026). (Foto: Humas Jateng)
JAKARTA (KebumenUpdate.com) – Provinsi Jawa Tengah naik dari peringkat kelima menjadi posisi kedua nasional dalam pengembangan destinasi wisata ramah muslim berdasarkan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026. Capaian tersebut diumumkan dalam Indonesia Muslim Friendly Tourism Summit 2026 yang digelar Bank Indonesia di Assembly Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat, 16 Oktober 2026.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menerima penghargaan tersebut mewakili Gubernur Ahmad Luthfi. Peningkatan peringkat ini menjadi dorongan bagi Pemprov Jateng untuk memperluas fasilitas wisata ramah muslim sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata daerah.
Taj Yasin mengatakan, capaian tersebut menjadi modal untuk memperkuat pengembangan pariwisata berkelanjutan yang terintegrasi dengan layanan ramah muslim dan ekonomi syariah.
“Alhamdulillah, kali ini kita ada di peringkat kedua. Ini hadiah buat kita semua, buat masyarakat Jateng yang menyongsong pada tahun 2027, yaitu pariwisata berkelanjutan, ramah muslim, dan ekonomi syariah,” ujar pria yang akrab disapa Gus Yasin tersebut.
Pemprov Jateng Siapkan Peta Jalan Wisata Ramah Muslim
Pemprov Jateng menyiapkan peta jalan pengembangan wisata ramah muslim dengan melibatkan perangkat daerah terkait, Bank Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan. Program tersebut berfokus pada peningkatan fasilitas dan kualitas layanan bagi wisatawan muslim.
Pengembangan mencakup sektor perhotelan, pusat kuliner, hingga fasilitas pendukung di kawasan destinasi wisata. Pemerintah provinsi juga berupaya memperluas penerapan layanan tersebut agar tidak hanya terpusat di wilayah tertentu.
“Kita berkolaborasi dengan BI, dengan stakeholder yang ada untuk menciptakan destinasi yang ramah muslim,” kata Taj Yasin.
Ia mencontohkan fasilitas hotel dengan kolam renang terpisah di Kabupaten Karanganyar yang telah tersedia sejak 2024. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat menjadi salah satu referensi bagi daerah lain dalam mengembangkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan muslim.
Pemprov Jateng ingin mendorong praktik serupa agar semakin banyak destinasi di wilayah tersebut memiliki fasilitas yang mendukung kenyamanan wisatawan.
“Ini perlu kita genjot, kita promosikan supaya nanti bisa berkembang di daerah-daerah yang lain, bukan hanya di Karanganyar saja, akan tetapi berkembang ke seluruh Jawa Tengah,” jelas Taj Yasin.
Indonesia Raih Skor Tertinggi dalam GMTI 2026
Dalam forum yang sama, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua destinasi ramah muslim dunia berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026. Indonesia meraih skor 79, yang disebut sebagai capaian tertinggi sepanjang keikutsertaan negara tersebut dalam indeks itu.
“Pencapaian ini semakin menegaskan kesiapan dan daya saing Indonesia,” ujar Widiyanti.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan dalam pengembangan wisata ramah muslim karena kuliner halal, fasilitas ibadah, serta layanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan muslim telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Meski demikian, pemerintah perlu terus meningkatkan mutu layanan, fasilitas, dan kemudahan akses informasi agar Indonesia semakin kompetitif dalam menarik wisatawan muslim internasional.
“Wisata muslim bukanlah sebuah niche market. Ini adalah salah satu pasar pariwisata global yang sangat menjanjikan,” katanya.
Widiyanti memproyeksikan perjalanan internasional wisatawan muslim dunia mencapai 262 juta kunjungan pada 2030, dengan estimasi total pengeluaran sekitar 310 miliar dolar AS per tahun. Potensi tersebut membuka peluang bagi daerah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong belanja wisata.
Pemerintah menggunakan Indonesia Muslim Travel Index sebagai salah satu instrumen untuk mengukur kesiapan daerah dalam mengembangkan destinasi wisata ramah muslim. Indeks ini mengadaptasi kerangka Global Muslim Travel Index dengan sejumlah aspek penilaian, yakni akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan.
Melalui IMTI, pemerintah daerah diharapkan dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan destinasi, memperbaiki fasilitas, serta meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan. Widiyanti berharap hasil penilaian IMTI 2026 dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kualitas dan daya saing pariwisata ramah muslim. *** Makin tahu Indonesia
- Penulis: Anindya Astadewi
- Editor: Hanny Garnet







Saat ini belum ada komentar