Cara Dinas Pariwisata Kulon Progo Gaet Wisatawan Ini Layak Dicontoh Kebumen
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 14 menit yang lalu
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

Paralayang Girisembung, Kulon Progo. (Foto: Hari)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KULON PROGO (KebumenUpdate.com) – Undangan kegiatan Fam Trip Explore Kulon Progo dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Jumat 6 November 2026, tak disia-siakan oleh Redaksi KebumenUpdate.
Saya pun bertolak langsung menuju lokasi untuk meliput rangkaian acara tersebut. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika roda motor listrik yang saya kendarai mulai berputar membelah udara sejuk pagi, berbekal daya baterai penuh 100%.
Perjalanan menempuh jarak sekitar 70 kilometer ini menjadi ujian tersendiri bagi motor listrik. Setibanya di PLN Wates pukul 06.40 WIB, indikator baterai menyusut hingga tersisa 16%.
Bermodalkan pengisian daya singkat (fast charging) selama beberapa menit hingga terisi 27%, perjalanan berkecepatan santai 46–50 km/jam pun berlanjut hingga tiba tepat waktu di titik kumpul pada pukul 07.15 WIB untuk sesi registrasi dan briefing.
Secara bentang alam, Kulon Progo memiliki kemiripan yang khas dengan Kebumen—terbentang dari pesisir pantai, dataran rendah, hingga jajaran perbukitan.
Namun hari itu, Dinas Pariwisata Kulon Progo menunjukkan cara mengemas potensi tersebut secara segar melalui kolaborasi bersama 21 pegiat media sosial dari Jawa Tengah dan DIY yang didanai oleh Dana Keistimewaan (Danais) DIY.
Dari Ketinggian Menoreh hingga Air Jernih Mudal
Petualangan diawali di perbukitan Banjarasri untuk menjajal keindahan Paralayang Girisembung. Destinasi yang dibangun menggunakan Dana Keistimewaan DIY periode 2024–2025 ini menyajikan atraksi terbang tandem bersama instruktur profesional.

Paralayang Girisembung, Kulon Progo. (Foto: Hari)
Namun, tidak semua peserta bisa mengangkasa, termasuk saya. Adanya batasan bobot badan maksimal 85 kg membuat sebagian peserta harus puas menjadi penonton dari darat.
Walau tak ikut melayang di udara, pemandangan megah Pegunungan Menoreh dan hamparan sawah hijau di bawahnya tetap sukses memanjakan mata.
Puas menikmati lanskap ketinggian, rombongan bergeser ke Mahaloka Paradise di kawasan kuliner Pronosutan untuk santap siang. Di tempat ini, Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko—yang juga mantan pegiat media—menyapa langsung para peserta.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pegiat media sosial yang hadir. Kami berharap pengalaman dan destinasi yang dikunjungi dapat dibagikan di media sosial masing-masing agar Kulon Progo semakin dikenal dan menjadi tujuan utama saat musim liburan,” tutur Wabup Ambar sembari berpesan agar pegiat media selalu bijak dan objektif dalam menyampaikan informasi.

Pemandangan dari Mahaloka Paradise. (Foto: Hari)
Perjalanan berlanjut menuju kawasan Tanjungharjo, Nanggulan, sentra kerajinan serat alam. Di sini, bahan-bahan organik disulap tangan-tangan kreatif lokal menjadi pelbagai produk dekorasi rumah, karpet (rugs), tas, dan pernak-pernik estetis bernilai ekspor.
Tak kalah memesona, titik keempat membawa kami ke Ekowisata Taman Sungai Mudal di Girimulyo. Destinasi alam ini terkenal dengan kolam pemandian alaminya bernuansa hijau toska jernih yang bersumber dari mata air gua Perbukitan Menoreh.

Sentra kerajinan serat alam Indo Seagrass. (Foto: Hari)
Uniknya, mata air ini juga kerap dimanfaatkan oleh umat Buddha dalam rangkaian ibadah dan ritual menjelang Hari Raya Waisak. Meski debit air saat kunjungan kami belum maksimal karena curah hujan yang masih rendah, kesegaran udara rimba Mudal sukses melepaskan penat sejenak.
Menutup Hari di “Jimbarannya Jogja”
Perjalanan satu hari ini ditutup manis di Pantai Glagah, sang penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar sektor pariwisata Kulon Progo. Tiba tepat saat mentari mulai tenggelam (sunset), suasana pantai tetap riuh oleh wisatawan walau langit sedikit diselimuti mendung.

Ekowisata Sungai Mudal. (Foto: Hari)
Julukan “Jimbarannya Jogja” terasa makin hidup ketika pengunjung disuguhkan atraksi memukau fire dance (tari api) di tepi pantai, sembari menyaksikan pesawat hilir mudik take-off dan landing dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang berjarak sangat dekat.
Refleksi Perjalanan
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Sutarman, menegaskan bahwa fam trip ini dirancang bukan sekadar ajang jalan-jalan, melainkan fondasi promosi digital berkelanjutan berbasis kolaborasi ekonomi kreatif, kuliner, dan kearifan lokal.

Fire Dance di Pantai Glagah Kulon Progo. (Foto: Hari)
Langkah responsif dan terstruktur yang dilakukan Pemkab Kulon Progo—mulai dari fasilitasi pegiat media, penyusunan jadwal unggahan secara bertahap, hingga apresiasi penuh pada pegiat konten—merupakan formula strategis yang sangat layak dicontoh oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam mengenalkan potensi Geopark Kebumen.
Dengan strategi kolaborasi digital yang tepat, kekayaan alam lokal tak lagi sekadar menjadi potensi tersembunyi, melainkan penggerak nyata perekonomian masyarakat. **Makin Tahu Indonesia
Ikuti Kebumen Update agar tak ketinggalan berita




Saat ini belum ada komentar