Asa Hijau di Pantai Kaliratu
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Ming, 15 Feb 2026
- visibility 112
- comment 0 komentar

Aksi Selamatkan Alam (ASA) di Pantai Kaliratu Desa Jogosimo Kecamatan Klirong. (Foto: Gaspala)
SEBAGAI salah satu komponen dalam program Adiwiyata, kegiatan lingkungan berbasis partisipatif tidak hanya teori di dalam kelas, melainkan diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan.
Hal ini dilakukan ekstrakurikuler pecinta alam Gaspala SMAN 2 Kebumen melalui kegiatan penanaman 3.000 bibit bakau bertajuk Aksi Selamatkan Alam (ASA), Sabtu 14 Februari 2026, di Pantai Kaliratu Desa Jogosimo Kecamatan Klirong.
Lebih kurang 50 peserta yang terdiri dari anggota Gaspala, OSIS, MPK, dan kader Adiwiyata sekolah berpartisipasi di kegiatan ini. Mereka juga dibantu pengelola Konservasi Penyu Kaliratu untuk menanam ribuan bibit bakau (propagul) tersebut.
***
Beberapa hari sebelumnya pembina eksternal Gaspala Fian Hartanto menghubungi saya. Pada intinya memberitahu tentang kegiatan ini.
Sebagai orang yang pernah menjadi bagian di Gaspala tentu masih ada panggilan hati untuk kembali berpartisipasi di kegiatan-kegiatannya.
Namun mengingat aktivitas saat ini, sepertinya sulit. Dan benar, Jumat malam setelah agenda kerja untuk esok hari dibagikan, setidaknya ada tiga kegiatan liputan yang salah satunya kunjungan menteri ke Kebumen.
Saya sampaikan permohonan maaf karena tidak dapat memenuhi undangan di acara tersebut. Mereka memahami. Namun masih berharap bisa menyempatkan waktu setidaknya hadir saat penutupan. Ternyata perkiraan meleset.
Kunjungan menteri berakhir saat tengah hari tepat waktu Zuhur. Mereka pun mengabarkan bahwa kegiatan penanaman telah selesai.
***
Sampai di rumah saya hubungi Ketua Gaspala Azzam Ikhsan Pandu Pradana.
“Apakah ada kendala di kegiatan?” tanya saya.
“Kendala waktu membawa bibit yang jumlahnya 3.000. Karena jumlah bibit banyak sedangkan peserta hanya 50 orang,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sepanjang jalur menuju lokasi tanam banyak bibit bakau yang jatuh karena setiap anak setidaknya membawa 50 batang propagul.
“Pengurus menyisir jalur untuk memastikan tidak ada yang tercecer,” tambahnya.
Ketika saya tanya kendala perizinan, ia menjelaskan bahwa dari sekolah tidak ada masalah meski proposal sempat terlambat di-ACC.
***
Sejenak teringat ketika masa-masa akhir saya sebagai pembina Gaspala, dihadapkan pada penolakan izin kegiatan telusur gua (caving).
Ada kesan bahwa sekolah hanya mendukung kegiatan alam selama itu bersifat ‘kosmetik’, untuk memenuhi poin penilaian Adiwiyata.
Kontribusi lapangan dianggap bukti nyata kepedulian sekolah terhadap bumi. Namun di sisi lain, saat organisasi mengajukan izin untuk melaksanakan kegiatan yang esensinya membentuk karakter, izin mendadak terkunci rapat. Makin Tahu Indonesia
***
Pembina eksternal Gaspala Fian Hartanto menambahkan bahwa secara keseluruhan kegiatan berjalan lancar.
Dua minggu sebelum kegiatan dilaksanakan, memang ada kendala mengenai ketersediaan bibit yang akan ditanam.
Namun permasalahan tersebut akhirnya dapat diatasi dengan membeli bibit bakau dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Pansela.
Opsi ini dipilih dan disepakati oleh pengurus maupun alumninya hingga melakukan open donasi untuk membeli bibit bakau tersebut.
“Alhamdulillah bisa dapat 3.000 bibit yang di antar langsung ke lokasi (Konservasi Penyu Kaliratu),” pungkasnya.







Saat ini belum ada komentar