Kebumen Membutuhkan Museum
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 5 Mar 2025
- visibility 2.204
- comment 0 komentar

Artefak keagamaan lingga dan yoni di Desa Sumberadi, Kebumen. (Ft. Historical Study Trips)
Dari seluruh lapisan sosial budaya masing-masing era tersebut ada yang selayaknya disimpan dan diselamatkan dalam sebuah ruangan khusus bernama museum baik itu berupa artefak-artefak keagamaan era Hindu maupun sejumlah senjata seperti tombak dan keris atau pakaian-pakaian serta mahkota jabatan bupati era Hindia Belanda (sebagaimana milik Bupati Ambal Poerbonegoro yang masih tersimpan di rumah keluarga) atau naskah-naskah kuno.
Salah satu artefak peninggalan era Hindu yang selayaknya disimpan di museum adalah patung Ganesha yang ditemukan di Desa Kejawang, Kecamatan Sruweng. Artefak ini terbuat dari material batu tufaan dan saat penulis mengunjungi beberapa tahun silam disimpan dalam sebuah gudang.
Membaca Masa Lalu Kota Melalui Keragaman Artefak Budaya
Bayangkan jika berbagai artefak berbagai lapisan zaman dan kebudayaan tersebut-khususnya yang dapat dipindahkan dan rawan kerusakan-jika disimpan di sebuah tempat khusus bernama museum. Seperti kata Faye Sayer, maka koleksi benda-benda tersebut dapat menjadi “tempat kisah-kisah masa lampau diciptakan dan dikomunikasikan kepada publik”. Masyarakat Kebumen – baik pelajar dan publik – dapat mengunjungi dan membaca masa lalu kotanya melalui keragaman artefak budaya yang merentang dari abad ke abad.
Purworejo memiliki Museum Tosan Aji. Cilacap memiliki Museum Soesilo Soedarman yang merupakan milik pribadi sebagaimana Museum Roemah Martha Tilaar di Gombong. Purbalingga memiliki beberapa museum seperti Museum Wayang dan Museum Uang. Purwokerto memiliki beberapa museum yaitu Museum BRI dan Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman. Banyumas memiliki Museum Wayang. Tentu saja Kebumen dapat menyusul dan para pemangku kepentingan mempertimbangkan urgensi agenda kebudayaan dan pendidikan ini selain agenda-agenda keekonomian.
Di manakah lokasi museum yang ideal? Berapa biaya yang harus dikeluarkan membangun sebuah museum? Bagaimana mengumpulkan artefak kebudayaan untuk mengisi museum? Siapa yang akan melakukan kurasi isi museum? Siapa yang akan bekerja di museum? Kemudian siapa penanggung jawab museum? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab bersama saat kita semua-khususnya para pemangku kepentingan terkait – sudah siap dan memiliki bingkai pemahaman yang sama mengenai pentingnya museum di kota ini.
Kiranya tulisan sederhana ini bisa menjadi api kecil yang memantik api semangat yang lebih besar bagi terwujudnya edukasi. ***
*Teguh Hindarto, Founder Historical Study Trips dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kebumen







Saat ini belum ada komentar