Geopark Jadi Aset Masa Depan, Bappenas Tekankan Kolaborasi dan Transformasi Pengelolaan
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Kam, 4 Des 2025
- visibility 751
- comment 0 komentar

Wakil Bupati Kebumen Zaeni Miftah menerima penghargaan. (Foto: Dok. BP Geopark Kebumen)
JAKARTA (KebumenUpdate.com) – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy menegaskan bahwa geopark bukan sekadar warisan statis melainkan aset masa depan yang dinamis.
“Geopark bukan peninggalan masa lalu. Konsep ini harus menghadirkan konservasi, edukasi, dan pengembangan ekonomi lokal,” ujar Rachmat saat menghadiri Indonesia’s Geopark Leader Forum bertema “Building Knowledge for Indonesia’s Geopark Development” di Jakarta, Rabu 4 Desember 2025.
Acara ini dihadiri oleh kepala daerah yang memiliki kawasan geopark, termasuk Wakil Bupati Kebumen H Zaeni Miftah yang hadir mewakili Bupati Kebumen.
Menurutnya, geopark harus dikembangkan sebagai laboratorium alam terbuka yang memberi literasi lingkungan dan budaya bagi generasi mendatang serta membuka ruang kolaborasi konkret antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat.
Ia menekankan perubahan mindset dalam pemanfaatan sumber daya alam, dari pola ekstraksi ke konservasi bernilai tambah, disertai pengelolaan bottom-up dan berkelanjutan antar pemangku kepentingan.
Geopark Sebagai Indikator Pembangunan RPJMN 2025-2029
Geopark masuk sebagai indikator pembangunan dalam RPJMN 2025–2029, bagian dari tahap awal menuju Indonesia Emas 2045.
Saat ini Indonesia memiliki 12 UNESCO Global Geopark (UGGp) dari total 241 UGGp di dunia, sejajar dengan Italia dan berada di bawah China (49 UGGp) dan Spanyol (18 UGGp). Tahun 2025 dua geopark yang berstatus UGGp adalah Geopark Meratus dan Geopark Kebumen.
Pemerintah menargetkan penambahan geopark berstatus UGGp menjadi 13 pada 2026, 15 pada 2027, 16 pada 2028, dan 17 pada 2029.
Keragaman Geologi Sekaligus Kerentanan Gempa dan Tsunami
Rachmat menjelaskan, posisi Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik – Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik – menciptakan keragaman geologi luar biasa, sekaligus kerentanan terhadap gempa, tsunami, dan aktivitas vulkanik. Namun kondisi ini justru memperbesar potensi geopark yang belum banyak terdokumentasi.
Bappenas memandang transformasi pengembangan geopark perlu mencakup:
- Integrasi konsep geopark dalam rencana pengembangan wilayah, karena banyak kawasan geopark bersinggungan dengan lahan pertanian, kehutanan, dan sektor lain.
- Penegasan geopark sebagai Center of Excellence (CoE) melalui penguatan SDM, riset, dan teknologi, termasuk digitalisasi geopark, kolaborasi riset, dan pemanfaatan artificial intelligence untuk monitoring.
- Geowisata berbasis pariwisata berkualitas, bukan mass tourism, untuk menjaga konservasi kawasan.
- Pengembangan geoproduk lokal sebagai model ekonomi kreatif berkelanjutan.
Rachmat menyebut kepala daerah berperan sebagai aktor kunci dalam keberhasilan geopark. Peran tersebut meliputi inovasi, kolaborasi lintas pihak, serta penguatan tata kelola dan pendanaan.
“Kami mengajak para kepala daerah memperkuat komitmen membangun geopark nasional,” pungkasnya.









Saat ini belum ada komentar