Pengelolaan Sampah Berbasis Desa Diusulkan Jadi Model di Jateng
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Kam, 29 Mei 2025
- visibility 739
- comment 0 komentar

Gubernur Ahmad Luthfi saat mengunjungi TPST di Desa Penggarit. (Foto: Humas Jateng)
PEMALANG (KebumenUpdate.com) – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong penerapan pengelolaan sampah berbasis desa setelah meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Rabu, 28 Mei 2025. Ia menilai sistem pengelolaan sampah di desa tersebut bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di Jawa Tengah.
“Desa Penggarit ini sudah bisa mengelola sampah secara mandiri. Jika seluruh desa di Jateng melakukan hal yang sama, persoalan sampah bisa selesai di tingkat desa,” ujar Luthfi. Ia menyebut, Jawa Tengah memiliki 8.563 desa yang berpotensi mengembangkan TPST serupa.
Didampingi Bupati Pemalang Anom Widiyantoro dan Kepala Desa Penggarit Imam Wibowo, Ahmad Luthfi menegaskan pentingnya mengembangkan model ini melalui diskusi lintas dinas. Ia juga mengapresiasi inisiatif desa dalam menciptakan solusi lokal untuk isu lingkungan.
TPST Penggarit Olah Sampah Jadi Produk Bernilai
TPST Desa Penggarit menghasilkan berbagai produk dari sampah, seperti pupuk organik, pengurai amoniak, hingga bio karbon dari limbah peternakan. Gubernur menyebut hasil ini sebagai bentuk pengelolaan yang efektif dan ekonomis, karena pembangunan TPST tidak membutuhkan biaya besar.
Kepala Desa Imam Wibowo menjelaskan, pembangunan TPST didanai dari APBDes dengan anggaran sekitar Rp400 juta untuk mesin dan bangunan. Dalam sehari, TPST ini mampu mengolah sampah setara tiga truk. Meski sebagian warga sudah memilah sampah, edukasi tetap dibutuhkan agar pengolahan berjalan lebih optimal.
“Untuk sampah yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi, kami olah menjadi bio karbon dari sisa pakan ternak dan limbah kandang ayam,” jelas Imam.
Gubernur Apresiasi Potensi Desa: dari Koperasi hingga Wisata
Selain TPST, Gubernur Luthfi juga meninjau aktivitas Koperasi Desa Putih serta potensi wisata dan pertanian di Desa Penggarit. Ia menyempatkan menikmati buah mangga langsung dari kebun, mengunjungi peternakan kambing, dan menikmati panorama Embung Pudhak Wangi.
Luthfi menyebut, kesadaran masyarakat desa terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan dan pengembangan ekonomi lokal sangat membanggakan.
“Masyarakat desa sudah terdidik soal pentingnya menangani sampah. Ini adalah langkah nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan,” pungkasnya.







Saat ini belum ada komentar