Para Perempuan Tangguh yang Ingin Ubah Nasib Lewat Jalur Legal ke Luar Negeri
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 2 Agu 2025
- visibility 391
- comment 0 komentar

Peserta pelatihan gratis bagi calon pekerja migran Indonesia. (Foto: Humas Jateng)
SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Program pelatihan gratis yang diselenggarakan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) Semarang I milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadi harapan baru bagi para calon pekerja migran Indonesia (CPMI).
Tak hanya menyediakan keahlian teknis, pelatihan ini juga menjadi ruang pembentukan karakter dan pemulihan semangat hidup bagi mereka yang terdampak ekonomi.
Salah satunya adalah Indah Purya Ristiani, ibu muda asal Kabupaten Batang. Dalam suasana haru, Indah menceritakan kondisi keluarga yang mendorongnya mengikuti pelatihan CPMI.
“Saya ingin memperbaiki ekonomi keluarga dan menyekolahkan anak saya. Di usia 29 tahun, sulit sekali mendapat kerja di Batang. Karena itu saya memilih merantau ke Taiwan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, Sabtu 2 Agustus 2025.
Indah menjadi tulang punggung keluarga, merawat orang tua yang lanjut usia dan seorang anak berusia enam tahun. Sejak ayahnya jatuh sakit dan harus menjalani operasi, kondisi ekonomi keluarga semakin terpuruk.
Jalan Keluar dari Keterbatasan
Pelatihan CPMI di BLK memberinya akses terhadap kemampuan dasar kerja, pelatihan bahasa asing, serta bekal adaptasi budaya. Semua disediakan gratis, mulai dari konsumsi, akomodasi, hingga perlengkapan pelatihan.
“Saya sangat terbantu. Di sini saya belajar bahasa, keterampilan kerja, dan bagaimana menghadapi situasi di negara tujuan nanti,” ungkap Indah.
Cerita serupa datang dari Wulan (22), peserta lain yang ingin bekerja sebagai perawat lansia di Taiwan. Ia ingin bangkit dari keterpurukan ekonomi keluarga pasca usaha sang ayah bangkrut pada 2020.
“Saya dulu hidup cukup. Tapi sejak usaha jual sapi ayah saya jatuh, kami kesulitan. Sekarang saya ingin membantu ekonomi keluarga lewat pekerjaan di luar negeri,” ujarnya.
Wulan mendapatkan pelatihan lengkap, mulai dari psikologi, cara merawat lansia, manajemen emosi, hingga praktik sehari-hari seperti menyuapi, memandikan pasien, hingga pemberian obat.
Fokus pada Keluarga Miskin
Emiliana Bekti Widiningsih, pengampu pelatihan CPMI di BLK Semarang I, menjelaskan bahwa pelatihan ini ditujukan bagi warga kurang mampu yang bertekad memperbaiki taraf hidupnya melalui jalur migrasi legal.
“Peserta tinggal di sini dengan sistem boarding. Mereka mendapatkan makan tiga kali sehari, kudapan dua kali, baju kerja, peralatan praktik, hingga sarana pelatihan. Semua gratis, dibiayai oleh APBN dan APBD,” jelasnya.
Emiliana menambahkan bahwa pelatihan ini sejalan dengan komitmen Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam pengentasan kemiskinan.
“Peserta kami bekali dengan keterampilan sesuai kebutuhan negara tujuan. Setelah lulus, mereka bisa magang atau langsung bekerja melalui kerja sama dengan penyalur resmi (P3MI),” tandasnya.
Program pelatihan CPMI di BLK Semarang I bukan sekadar upaya mencetak tenaga kerja berkualitas, tapi juga jembatan menuju perubahan hidup bagi mereka yang berjuang dari keterbatasan. Dalam peluh dan air mata peserta, tersimpan harapan besar untuk masa depan yang lebih baik – bagi diri sendiri, keluarga, dan tanah kelahiran.








Saat ini belum ada komentar