Lima Tradisi Unik Masyarakat Kebumen Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 17 Sep 2024
- visibility 10.983
- comment 0 komentar

Ratusan peternak di Desa Entak Kecamatan Ambal, membawa ternak mereka ke pantai dalam tradisi bernama Gebyag Cah Angon. (Foto: Dok. SM)
Sebagai puncak acara gebyag cah angon, warga bersama-sama melakukan besem atau bakar gubuk. Tradisi yang sudah berlangsung turun temurun itu sebagai simbol agar para pemilik ternak dijauhkan dari sengkala. Pesta para peternak itu dimeriahkan dengan berbagai hiburan kesenian tradisional seperti eblek, panjat pinang, ketoprak. Saat ini, hiburan tahun ini ditambah dengan organ tunggal dengan menghadirkan penyanyi.
Tradisi ini menjadi doa meminta berkah bagi warga pesisir selatan. Sekaligus menunjukkan masih tingginya semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat urut sewu.
-
Tradisi Tenongan di Desa Kalibangkang

Tradisi tenongan di Desa Kalibangkang. (Foto: Dok. SM)
Warga Desa Kalibangkang, Kecamatan Ayah, Kebumen memiliki tradisi unik untuk memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang disebut “tenongan” itu, setiap keluarga membawa dua tenong besar ke balai desa.
Satu tenong berisi berbagai makanan berupa nasi beserta lauk pauknya seperti, masakan daging kerbau, ingkung ayam kampung, ikan hingga sayur dan buah-buahan. Sedangkan tenong satunya berisi beraneka jajanan pasar.
Terlepas dari banyaknya jumlah makanan yang dibawa, namun ada satu persamaan dari sekitar 1.600 tenong yang dibawa oleh sekitar 800 warga ke balai desa. Yakni setiap tenong pasti terdapat masakan daging kerbau. Daging tersebut merupakan hasil pembagian dari seekor kerbau yang disembelih sehari sebelumnya.
Warga membawa tenong dari rumah dengan memikulnya. Terkecuali mereka yang tinggal di dusun yang jauh, membawanya secara rombongan dengan mobil. Uniknya, mereka yang mengikuti tradisi tenongan adalah para laki-laki dewasa menjadi kepala keluarga. Tidak terlihat perempuan atau anak kecil dalam tradisi tersebut.
Sesampai di balai desa, tenong-tenong yang dibawa diletakkan berjajar dan dibuka tutupnya. Selanjutnya dipimpin oleh sesepuh desa setempat dilaksanakan kenduren atau doa bersama. Setelah kenduren selesai, makanan dalam tenong tidak dimakan bersama melaikan dibawa pulang kembali. Sebelumnya, sebagian warga saling tukar isi tenong dengan warga yang lainnya.
Meskipun tidak ada kepercayaan khusus dalam penyembelihan kerbau, warga masih melestarikan tradisi itu. Oleh warga penyembelihan kerbau semata-mata sebagai wujud rasa kebersamaan dan gotong royong sesama warga satu desa.
Adapun kerbau yang disembelih merupakan hasil iuran. Kemudian daging kerbau tersebut dibagikan kembali kembali kepada seluruh warga Desa Kalibangkang. Setelah dibagi rata setiap keluarga memperoleh bagian yang sudah ditentukan.
Meskipun bagian tidak banyak, namun masyarakat merasakan kepuasan tersendiri, karena rasa keadilan dan kebersamaan jelas terlihat dan mereka rasakan sendiri. Biasanya, sebelum tenongan, pada malam harinya warga menggelar sholawatan di masjid dan mushola. Selain itu untuk memeriahkan acara juga digelar kesenian tradisional jamjaneng untuk mengiringi pembacaan sholawatan.
-
Ngalap Berkah Pembacaan Kitab Al Barzanji Jam’iyyah Thoriqoh Syadziliyyah

Jamaah Thoriqoh Syadziliyyah menghadiri pembacaan kitab Al Barzanji. (Foto: Dok. SM)
Setiap bulan Rabiul Awal puluhan ribu anggota Jam’iyyah Thoriqoh Syadziliyyah dari berbagai daerah di Indonesia menghadiri Haflah Maulidurrosul SAW di Pondok Pesantren Al Falah, Somolangu Wetan, Desa Sumberadi, Kebumen. Bahkan sebagian jamaah dari luar daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera bahkan sudah datang jauh hari sebelumnya dengan menginap di rumah warga.
Puncak acara haflah ditandai dengan pembacaan kitab Al Barzanji oleh Mursyid Thoriqoh Syadziliyyah. Jamaah yang meluber hingga di jalan dan rumah warga khusyuk mengikuti bacaan sholawat.
Yang unik dalam peringatan maulid Nabi di pesantren ini adalah sebagian jamaah mengumpulkan barang berharga miliknya, utamanya alat pertanian, pertukangan dan peralatan bekerja lainya. Barang yang disebut sebagai Azimah itu untuk didoakan agar memperoleh barokah dari pembacaan kitab Al Barzanji. Ada yang membawa benih padi, beras, cangkul, bahkan gergaji mesin.
Mereka berharap barang milik mereka bisa mendapatkan barokah dari doa puluhan ribu jamaah yang hadir. Barang itu akan disimpan sampai tahun depan lagi dalam acara yang sama.







Saat ini belum ada komentar