Self-Diagnose di TikTok: Bermanfaat atau Bumerang bagi Kesehatan Mental?
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 10 Mei 2025
- visibility 332
- comment 0 komentar

Image by Guillermo Spelucin.
SCROLL TikTok malam hari, lalu tiba-tiba kamu melihat konten bertajuk, “Tanda-tanda kamu punya ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) dan nggak sadar” atau “Cek ini kalau kamu mungkin punya anxiety disorder”.
Tanpa sadar, kamu mulai berpikir: “Lho, kok aku juga begitu? Jangan-jangan aku…?”
Fyi, ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang umum terjadi dan seringkali terdiagnosis pada masa kanak-kanak, meskipun dapat berlanjut hingga dewasa. Kondisi ini ditandai dengan pola kesulitan yang terus-menerus dalam memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang mengganggu fungsi dan perkembangan.
Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Banjar Lama pafibanjarlama.org menyoroti semakin maraknya fenomena self-diagnose—terutama dari konten media sosial. Banyak anak muda merasa tercerahkan setelah menonton video pendek tentang gejala gangguan mental.
Tapi, di sisi lain, banyak juga yang jadi makin panik, bingung, bahkan menganggap dirinya sakit padahal belum tentu.
Menurut jurnal JMIR Mental Health (2021), media sosial memang bisa membantu meningkatkan kesadaran soal kesehatan mental, terutama bagi generasi muda yang belum akrab dengan layanan psikologis. Tapi, ada risiko besar saat kontennya tidak akurat, dilebih-lebihkan, atau diproduksi oleh orang yang bukan profesional.
Beberapa dampak negatif self-diagnose yang tidak disadari antara lain:
- Salah memahami gejala dan mengaitkan diri dengan gangguan yang tidak relevan.
- Terlambat mendapat bantuan profesional karena merasa sudah “paham” sendiri.
- Menstigma diri dan memperparah kecemasan.
Self-awareness memang penting. Tapi ada perbedaan besar antara menyadari gejala dan mendiagnosis kondisi medis. Diagnosis hanya bisa ditegakkan oleh tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater, lewat wawancara klinis dan observasi yang cermat.
Kalau kamu merasa relate dengan konten kesehatan mental, itu bisa jadi sinyal awal. Catat, amati, lalu konsultasikan. Bukannya melarang cari tahu dari internet—tapi jangan berhenti di sana. Jadikan itu sebagai pintu pembuka menuju bantuan yang sebenarnya.
Disclaimer: Artikel ini tidak ditujukan untuk menggantikan diagnosis medis. Jika kamu merasa memiliki gejala gangguan mental, lebih baik segera konsultasikan ke profesional kesehatan mental untuk penanganan yang tepat.








Saat ini belum ada komentar