Film Rangga & Cinta di Mata Generasi Milenial yang Sudah Nonton AADC Lebih dari 10 Kali
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 4 Okt 2025
- visibility 1.199
- comment 0 komentar

Poster film Rangga & Cinta di salah satu bioskop. (Foto: Padmo)
SAYA hadir di bioskop pada hari pertama Rangga & Cinta tayang, Kamis 2 Oktober 2025. Sebagai generasi yang tumbuh dengan Ada Apa dengan Cinta? (AADC), saya tidak membawa banyak ekspektasi saat akan menonton film karya Riri Riza ini.
Miles Film dikenal lihai mengolah nostalgia, tapi juga sering dianggap bermain aman dengan formula lama. Nonton film ini juga semacam nostalgia, saat nonton film AADC pertama kali di Bioskop Mataram dekat Stasiun Lempuyangan. Saat itu merupakan tahun kedua saya kuliah di Yogyakarta.
Dan dugaan saya benar. Film Rangga dan Cinta nyaris mak plek ketiplek dengan AADC. Dari skenario hingga soundtrack, kemiripan terasa kuat. Perbedaan hanya terletak pada aransemen musik yang diperbarui dan format musikal yang kini menonjol.
Para pemain menyanyikan lagu secara live dengan suara asli mereka. Pilihan ini unik, sekaligus berisiko. Naturalitas bisa menjadi daya tarik, tapi di beberapa titik justru terasa goyah. Tidak semua aktor nyaman menyanyi, sehingga ada adegan yang kehilangan tensi dramatiknya.
Menjual Nostaliga Dibungkus Trend Musikal
Strategi Miles Film terlihat jelas: menjual nostalgia, tapi dibungkus dengan tren musikal yang sedang mendapat tempat di pasar global. Sayangnya, inovasi ini setengah hati. Alih-alih menawarkan eksplorasi baru atas kisah Rangga dan Cinta, film ini seperti sekadar mengulang resep lama dengan kemasan berbeda.
Bagi penonton awam atau generasi yang tidak tumbuh bersama AADC, Rangga & Cinta mungkin tetap menyenangkan. Namun bagi mereka yang sudah menonton AADC berkali-kali yang bahkan sudah hafal dialog dan tiap adegannya, film ini lebih terasa sebagai “album remix” ketimbang karya segar.
Ada sedikit kejutan dalam perubahan adegan malam kencan Rangga dan Cinta, tapi itu tidak cukup untuk menutupi rasa dejavu yang mendominasi. Suara El Putra Sarira pemeran Rangga yang bernyayi sedikit membuat saya menemukan satu adegan yang layak dipuji.
Dalam konteks industri, Rangga & Cinta menunjukkan bagaimana nostalgia masih menjadi komoditas ampuh di perfilman Indonesia. Miles Film bermain aman, menjaga basis penggemar lama, sekaligus mencoba menggoda generasi baru dengan sentuhan musikal.
Pertanyaannya: sampai kapan strategi nostalgia ini bisa bertahan sebelum penonton menuntut cerita yang lebih berani dan relevan dengan zaman? Makin Tahu Indonesia








Saat ini belum ada komentar