Hegemoni Kekuasaan Jokowi: Membongkar Pengkhianatan Melalui Lensa Althusserian
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 4 Des 2024
- visibility 1.478
- comment 0 komentar

Ilustrasi Jokowi: (Foto: pngwing.com)
Contoh yang mencolok adalah dukungan Prabowo terhadap Gibran dalam pemilihan kepala daerah, yang lebih mencerminkan pengaruh Jokowi daripada independensi Prabowo. Hal ini menunjukkan bahwa Jokowi berhasil mengarahkan RSA ke arah yang mendukung kepentingan politiknya. Prabowo, yang awalnya merupakan oposisi kuat, kini berisiko menjadi alat legitimasi bagi hegemoni Jokowi.
Pengkhianatan terhadap Koalisi KIM: Memecah melalui ISA
Koalisi Indonesia Maju (KIM) adalah gabungan partai-partai yang mendukung pemerintahan Jokowi. Dalam analisis Althusser, koalisi ini berfungsi sebagai ISA yang menciptakan legitimasi politik bagi kekuasaan Jokowi. Namun, kritik yang muncul menunjukkan bahwa Jokowi menggunakan taktik “pecah belah” untuk melemahkan kekuatan kolektif koalisi, menjadikannya alat penguat personalisme politik.
ISA bekerja melalui ideologi untuk menciptakan konsensus, tetapi Jokowi justru menggunakan koalisi untuk mendukung kepentingan keluarganya, seperti terlihat dalam promosi politik Gibran. Akibatnya, koalisi yang seharusnya menjadi forum kolektif ideologis berubah menjadi instrumen individual yang melayani kepentingan sempit. Langkah ini melemahkan independensi partai-partai di KIM, menciptakan ketergantungan pada Jokowi, dan memperkuat kontrolnya atas sistem politik.
Pengkhianatan terhadap Rakyat Indonesia: Hegemoni Ideologi dan Represi
Pengkhianatan terbesar Jokowi, menurut kritik ini, adalah terhadap rakyat Indonesia. Dalam teori Althusser, rakyat adalah subjek yang dibentuk oleh ISA seperti pendidikan, media, dan agama. Jokowi dinilai berhasil membangun hegemoni melalui ISA ini untuk menciptakan citra sebagai pemimpin yang sederhana dan pro-rakyat, meskipun kebijakan-kebijakannya sering kali dinilai lebih menguntungkan oligarki daripada masyarakat umum.
Beberapa kebijakan kontroversial, seperti UU Cipta Kerja dan pembangunan Ibu Kota Negara baru, menunjukkan bagaimana ISA digunakan untuk membenarkan langkah-langkah yang sebenarnya tidak populer. Media massa, sebagai bagian dari ISA, memainkan peran penting dalam membangun narasi yang menguntungkan Jokowi, sementara kritik dari rakyat ditekan atau direduksi.







Saat ini belum ada komentar