Talkshow Jurnalistik, Kawula Muda Hilangkan Tabu Membahas Pers
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 10 Feb 2020
- visibility 4.113
- comment 0 komentar

Clara Serelita dari Radio In FM menyampaikan materi. (Foto: Dok. Merlin NS)
KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Pers masih menjadi bahasan tabu bagi masyarakat khususnya kawula muda. Padahal pembahasan mengenai pers dan jurnalistik cakupannya luas, tidak hanya seputar pemberitaan di televisi.
Pernyataan itu disampaikan oleh Mugiono, Ketua Panitia Penyelenggara Talkshow Jurnalistik yang berlangsung di Aula Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kebumen, Minggu, 9 Februari 2020. Talkshow bertema “Menghadapi Tantangan Jurnalistik di Era Disrupsi” ini diinisiasi oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Tarbiyah IAINU Kebumen.
Menurut Mugiono, talkhshow dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2020 ini digelar salah satunya untuk menjawab pernyataan di atas. Selain itu juga sebagai sarana belajar bagi kawula muda untuk memahami bidang jurnalistik.
Talkshow Hadirkan Sejumlah Narasumber
Talkshow menghadirkan narsumber Dede Setiawan dan Clara Serelita dari Ratih TV dan Radio In FM Kebumen. Keduanya menyampaikan pentingnya analisis media terhadap suatu berita. Hal ini bertujuan untuk mengetahui akurasi berita.
“Analisis ini dilakukan setelah berita dirilis. Jadi, akan diketahui hasil tentang isu-isu apa saja yang sedang berkembang di masyarakat dalam waktu tertentu,” jelas Dede pada sesi tanya jawab.
Tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi membuat akses informasi semakin mudah. Namun, kesalahpahaman juga mudah terjadi jika berita berasal dari sumber yang tidak jelas.
“Pesan saya, jadilah netizen cerdas yang bisa mengolah informasi dari berbagai sumber. Jangan mudah terpecah belah hanya dikarenakan berita hoaks,” tutur Dede menutup pemaparannya.
Peserta yang mayoritas mahasiswa menjadi lebih mengetahui bagaimana proses pembuatan berita. Bahwa semuanya memiliki prosedur dan harus mengandung news value.
“Peristiwa yang diberitakan itu harus update dan memiliki news value, di antaranya adalah pengaruh kepada masyarakat, penting tidaknya informasi tersebut, aktualitas berita, dan tokoh yang disebutkan,” imbuh Clara.
Tantangan Jurnalistik di Era Disrupsi

Peserta talkshow foto bersama narasumber. (Foto: Dok. Merlin NS)
Semua peserta antusias menyimak hingga waktu yang terus merangkak siang tidak dihiraukan. Hingga acara dilanjutkan pada sesi pembahasan tentang sejarah pers di Indonesia. Sesi ini menghadirkan Syarif Hidayat wartawan Sorot Kebumen sebagai narasumber. Kecerdasan gaya berceritanya membuat peserta semakin asyik mengikuti rangkaian acara siang hari.
Dia menyampaikan bahwa di era sekarang perubahan besar-besaran terjadi di berbagai lini (disrupsi). Konsumsi berita menjadi makanan sehari-hari. Apabila sehari saja tidak membaca berita, seperti ketinggalan informasi selama satu minggu. Inilah salah satu efek dari kecanggihan teknologi yang bisa membuat suatu konten viral dalam beberapa saat. Dalam sehari saja pemberitaan berbagai informasi berkembang begitu pesat.
“Saya sebagai insan pers saat ini ditantang dengan keberadaan netizen yang ingin menguji kemampuan pers. Maka izinkan saya untuk berpesan agar bisa menjadi netizen yang bisa mengonsumi informasi akurat,” ungkap Syarif menutup acara.
Lepas HP, Manusia Akan Nampak Kebodohannya?
Ungkapan dan pesan menggelitik dari narasumber selama pemaparan materi begitu terngiang. Salah satunya disampaikan oleh Suhanggono, peserta asal Grabag, Purworejo.
“Lepas HP, manusia akan nampak kebodohannya! Ini benar-benar kata mutiara yang luar biasa. Saya jadi menyimpulkan bahwa harus lebih banyak membaca buku agar pandai setiap saat tidak hanya ketika memegang gawai,” katanya mengutip kalimat narasumber.
Peserta lain, Muwunaroh Rizqoh menuturkan, “Saya senang bisa mengikuti acara ini. Selain bertambah ilmu, pastinya jadi lebih tahu bagaimana menyingkapi sebuah informasi secara benar.” (Merlin NS)









Saat ini belum ada komentar