Regenerasi Pokdarwis Sidowarno: Lestarikan Wayang dengan Sentuhan Teknologi
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Jum, 12 Sep 2025
- visibility 1.222
- comment 0 komentar

Peserta pelatihan foto bersama dengan tim pengabdian kepada masyarakat UNS.
KLATEN (KebumenUpdate.com) – Upaya melestarikan budaya wayang kulit terus digencarkan oleh masyarakat Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Kali ini, regenerasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bengawan Solo Bersinar mendapat sentuhan berbeda melalui kolaborasi dengan dosen dan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo serta UNS Kebumen.
Program ini dikemas dalam bentuk Fun STEAM Learning yang memadukan sains, teknologi, seni, hingga matematika, dengan tujuan membuat pembelajaran budaya terasa lebih menyenangkan bagi anak-anak.
Desa Sidowarno sejak lama dikenal sebagai Desa Wisata Wayang. Bahkan, desa ini pernah masuk nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 dan meraih penghargaan empat besar Kategori Souvenir Lokal dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Meski begitu, tantangan besar masih dihadapi, terutama rendahnya minat generasi muda terhadap seni budaya lokal. Hasil pra-survei menunjukkan partisipasi anak-anak sekolah dasar dalam kegiatan sanggar wayang masih minim, hanya sekitar 9–10 dari total 92 anak yang rutin hadir.

Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat UNS yang diketuai oleh Anesa Surya, M. Pd. bersama anggota tim pengusul Dr. Joko Daryanto, S.Sn., M.Sn. dan Dr. Relly Prihatin, M.Pd. menggandeng Pokdarwis untuk menggelar program regenerasi sejak April hingga September 2025.
Program ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun 2025 yang didanai oleh Direktorat Penelitian di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Metode Partisipatif, Libatkan Berbagai Unsur
Melalui metode partisipatif, kegiatan ini melibatkan berbagai unsur sesuai konsep kolaborasi pentahelix yang melibatkan lima unsur utama: akademisi, pemerintah desa, dunia usaha, komunitas budaya, dan media. Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong Pokdarwis melakukan regenerasi dengan pendekatan Fun STEAM Learning yang lebih menyenangkan.
“Pendekatan Fun STEAM Learning membuat belajar budaya tidak lagi terasa kaku. Anak-anak bisa belajar wayang melalui permainan edukatif, digital storytelling, hingga media interaktif. Hasilnya, mereka lebih antusias, terlihat dari partisipasi anak-anak yang mulai meningkat dibandingkan sebelumnya,” ujar Anesa Surya, ketua tim pengabdian UNS.
Program ini mencakup sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, hingga evaluasi. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah penggunaan modul pembelajaran interaktif yang dirancang untuk anak sekolah dasar. Tidak hanya itu, Pokdarwis juga dilatih agar mampu mengelola program regenerasi secara sistematis dan berkelanjutan.

Selain memberikan pelatihan, program ini juga memperkuat manajemen Pokdarwis dalam merancang kegiatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Para anggota dibekali keterampilan mengembangkan produk edukasi berbasis budaya serta pemanfaatan media interaktif. Kolaborasi dengan sekolah dan komunitas seni lokal semakin memperkaya kegiatan ini.
Melalui program ini, Pokdarwis Sidowarno tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mencetak generasi muda yang bangga dengan identitas budaya mereka. Harapannya, Desa Sidowarno mampu terus menjadi destinasi wisata budaya unggulan dengan ekosistem yang adaptif, kreatif, dan berkelanjutan. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar