Mitos Tempat Sakral Terbantahkan: Panembahan di Desa Sampang Mulai Bergerak, Warga Diminta Waspada
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Jum, 5 Des 2025
- visibility 608
- comment 0 komentar

Tanah bergerak di Desa Sampang Kecamatan Sempor. (Foto: Dok BPBD Kebumen)
KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Pergerakan tanah di Desa Sampang Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen setelah pergerakan yang kian mengkhawatirkan sejak kemunculan awalnya pada 11 November 2025.
Guna penanganan lebih lanjut, Bupati menerima hasil kajian geologi dari Badan Geologi PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) di Gedung A, Jumat 5 Desember 2025, yang dihadiri Sekda, pimpinan OPD, dan Camat di wilayah rawan bencana.
Gerakan Tanah Tipe Rayapan dan Riwayat Masa Lalu
Ketua Tim PVMBG, Oktory Prambada, menjelaskan bahwa lokasi bencana merupakan area longsoran lama/masa lalu dan termasuk gerakan tanah tipe rayapan, yaitu pergerakan yang terjadi secara perlahan.
Secara geologi, area ini berada pada zona lembah yang merupakan jalur aliran air dan tersusun dari batuan lapuk serta bekas longsoran purba.
Kejadian ini bukanlah yang pertama. Berdasarkan informasi Kepala Desa Sarikun, pada tahun 1977 satu RT sudah pernah pindah akibat pergerakan di bagian bawah. Kejadian serupa juga tercatat pada tahun 2016 dan terus berulang ketika curah hujan tinggi.
Fakta Lapangan vs Kearifan Lokal
Tim geologi juga menyoroti kearifan lokal masyarakat setempat yang berkeyakinan kondisi masih aman karena adanya panembahan di puncak bukit.
“Masyarakat memiliki kepercayaan ketika panembahan tersebut masih aman, maka masyarakat juga merasa aman,” jelas tim PVMBG.
Namun, fakta dari asesmen lapangan menunjukkan bahwa pohon-pohon di sekitar panembahan sudah mulai bertumbangan. Hal ini mengindikasikan bahwa panembahan tersebut juga telah mengalami pergerakan, sekaligus membantah keyakinan masyarakat.
Kondisi Material Rentan Bencana
Oktory juga membandingkan kondisi Sampang dengan bencana serupa di Majenang dan Banjarnegara. Meskipun awalnya sama-sama tipe rayapan, material di Sampang bersifat heterogen, berbeda dengan Majenang dan Banjarnegara yang homogen.
Namun, ia memperingatkan bahwa kondisi geologi di Sampang ibarat “roti yang sudah dicacah-cacah,” yang artinya air sangat mudah masuk ke dalam tanah. Ini memicu kekhawatiran bahwa pergerakan tanah yang awalnya lambat dapat berubah menjadi cepat, bahkan aliran rombakan, jika suplai air dan curah hujan masih tinggi.
Kerusakan dan Imbauan Bupati
Dampak pergerakan tanah telah menyebabkan kerusakan signifikan, termasuk 70 hektare lahan pertanian, 6 rumah rusak, 65 rumah terancam, dan infrastruktur seperti jembatan dan jalan desa terputus.
Menindaklanjuti hal ini, Bupati Lilis Nuryani berpesan agar warga tetap waspada serta hati-hati karena curah hujan diperkirakan masih tinggi sampai Februari.
“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada badan geologi yang telah melakukan kajian di Kebumen,” jelas Bupati Lilis.
Bupati juga menegaskan bahwa rekomendasi penanganan yang mencakup relokasi dan strategi tata ruang akan segera dibahas dan ditindaklanjuti. Makin Tahu Indonesia









Saat ini belum ada komentar