BUMD Jateng Serap 30 Ribu Ton Garam Lokal untuk Dukung Swasembada
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 25 Jun 2025
- visibility 962
- comment 0 komentar

Pabrik garam industri PT SPJT di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Pati resmi beroperasi. (Foto: Humas Jateng)
PATI (KebumenUpdate.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) menyerap hingga 30.000 ton garam dari petambak lokal Kabupaten Pati per tahun. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan swasembada garam nasional.
Pabrik garam industri PT SPJT di Desa Raci, Kecamatan Batangan, resmi beroperasi pada Juni 2025. Pabrik seluas 2,5 hektare ini mampu memproduksi 25.000 ton garam per tahun dengan kualitas NaCl minimal 97 persen dan kadar air 0,5 persen.
Dirut PT SPJT, Untung Juanto, menyebut seluruh bahan baku diserap dari petambak Pati. “Pabrik ini menyerap 100 persen garam lokal. Kapasitas produksi kami mencapai 2.000 ton per bulan,” ujarnya.
Tingkatkan Nilai Tambah dan Kualitas Garam
Sekretaris Daerah Jateng, Sumarno, menegaskan, Pati merupakan penghasil garam terbesar kedua di Indonesia setelah Madura, dengan produksi mencapai 150 ribu ton per tahun. Namun sebagian besar garam belum memenuhi standar industri karena kadar NaCl yang masih rendah.
Melalui pabrik SPJT, garam krosok dari petani diolah agar memenuhi standar industri seperti farmasi, kosmetik, tekstil, dan pakan ternak. “Ini bagian dari hilirisasi. Petambak bisa menikmati nilai tambahnya,” kata Sumarno.
Pemprov Jateng juga mendorong edukasi bagi petambak agar kualitas produksi meningkat. Naiknya kadar NaCl akan memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
Jaga Harga Stabil dan Kurangi Impor
Keberadaan pabrik industri SPJT diharapkan menjaga kestabilan harga di tingkat petani. Salah satu petambak asal Batangan, Joko Senawi, mengaku kini lebih mudah menjual hasil panennya dengan harga stabil Rp1.600 per kilogram.
Secara nasional, kebutuhan garam industri mencapai 4,9 juta ton per tahun, namun produksi dalam negeri baru mencapai 2,04 juta ton. Pemerintah berharap kehadiran SPJT dapat mengurangi ketergantungan pada impor.
Produksi pabrik SPJT didukung mesin buatan anak bangsa dan energi gas CNG dari JPEN untuk mendukung industri hijau. Hingga kini, SPJT telah menggandeng 21 perusahaan sebagai mitra dengan kebutuhan sekitar 1.500 ton per bulan.






