15 Perguruan Tinggi Muhammadiyah Jateng-DIY Ikuti URECOL di Stikes Gombong
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 10 Sep 2019
- visibility 3.349
- comment 0 komentar

Para pembicara kunci mamaparkan materi dalam The 10th URECOL 2019 di Stikes Muhammadiyah Gombong. (Foto: Padmo-KebumenUpdate)
Kegiatan yang diinisiasi oleh Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah se-Jawa Tengah dan DIY bekerjasama dengan Stikes Muhammadiyah Gombong itu merupakan forum seminar nasional yang memberikan kesempatan untuk diseminasi, diskusi, dan mendapatkan follow up atas research outcomes yang lebih bermanfaat.
Tantangan Riset Nasional
Ketua Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Pusat Agus Ulinuha PhD hadir memberikan sambutan dan apresiasi yang luar biasa kepada peserta. Pihaknya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Stikes Muhammadiyah Gombong yang sudah menyiapkan dan menyelenggarakan URECOL.
Acara dimeriakan oleh paduan suara Gita Lecsta Stikes Muhammadiyah Gombong, dan tarian tradisional cepetan yang berasal dari Karanggayam, Kebumen dipentaskan secara apik oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni Stikes Muhammadiyah Gombong.
Baca Juga: Bekali Calon Lulusan, Ini yang Dilakukan Stikes Gombong
Prof Khudzaifah Dimyati dalam paparannya menyampaikan bahwa tantangan riset nasional antara lain fokus riset, relevansi riset, produktivitas riset dan kolaborasi riset. Selain itu kerjasama riset baik domestik maupun internasional, meliputi berbagai dana penelitian, berbagi keahlian SDM, berbagai fasilitas riset, dan joint publikasi juga masih menjadi tantangan.
“Anggaran risbang di Indonesia masih bertumpu pada APBN. Padahal APBN sangat terbatas. Dunia usaha belum beperan secata signfikan dalam peningkatan anggaran risbang,” ujarnya.
Dia menambahkan, pemanfaatan anggaran risbang yang kecil belum optimal untuk meningkatkan relevansi dan produktivitas risbang karena sistem penganggaran dan administrasi keuangan yang sangat rigid cenderung menjadi faktor “penghambat” dalam pelaksanaan risbang, selain faktor kurang tajamnya fokus risbang. (ndo)










Saat ini belum ada komentar