Sejarah Pondok Pesantren Husnul Hidayah Karangtanjung dan Silsilah KH Ahmad Zaini Rifa’i
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 4 Mei 2024
- visibility 10.366
- comment 0 komentar

Syeikh KH Ahmad Zaini Rifa'i.
(KH Nur Iman memiliki nama asli BPH Sandiyo merupakan putra RM Suryo Putro yaitu putra sulung susuhunan Pangeran Pakubuwono 1 yang setelah menjabat sebagai raja diberikan gelar Susuhunan Amangkurat Jawi/Amangkurat IV. Walaupun Kiai Nur Iman seorang pangeran, namun dia ikhlas tidak menggunakan keningratannya untuk memimpin keraton, sebaliknya ia lebih memilih kehidupan yang sederhana).
-
Masa Kecil KH Ahmad Zaini Rifa’i
Syeikh KH Ahmad Zaini Rifa’I kecil berada dalam lingkungan yang sederhana dan tarbiyah keluarganya terutama ayahandanya sendiri Syaikh Mashfur bersama dengan dua saudaranya Mawardi dan Ridlowi. Ringkas cerita, setelah beranjak baligh Rifai muda melanjutkan ta’allum ke pamannya dari istri kedua Syeikh Abdul Mannan yang bernama Syeikh Abdul Kahfi Ma’mur Tejasari yang terkenal faqih serta ‘alim dalam ilmu alat dan ilmu hikmah.
Keinginannya untuk menuntut ilmu membuatnya tak kenal lelah untuk belajar. Bahkan beliau melanjutkan belajar di daerah Jawa Timur tepatnya di Pesantren Tasmirit Tholabah asuhan al’allamah Syaikh Ibrahim bin Irsyad. Pesantren yang berada di Dusun Jalen, Desa Setail Kecamatan Genteng, Banyuwangi Jawa Timur ini terkenal banyak melahirkan ulama besar di zamannya.
Baca Juga: Pesantren Al Huda Jatis 143 Tahun Pertahankan Tradisi Salaf, Bermula Dari Anak Petani
Semua itu tak lepas berkat ajakan dan tanggungan atas bentuk kepedulian kakaknya kepada adiknya yang terkenal ‘alim dan mu’allim di sana yaitu Syeikh Mawardi, walau pun konon beliau cuma berbekal sehelai baju dan sarung untuk bekal mondok. Sehingga beliau sering kali dawuh “Kalau bukan karena Mawardi, mungkin saya nggak akan jadi seperti ini,” kata beliau ketika mengenang jasa sang kakak.
Di antara sahib akrabnya di pondok yaitu KH Mukhtar Syafa’at yang konon KH Syafa’at adalah salah satu dari tiga santri dulu yang paling dimusuhi oleh putra gurunya yang terkenal majdzub/jadzab yaitu Dimyati bin Ibrahim. Selain syafa’at, dua lainnya yaitu Mawardi dan Keling.
( ***..tentu arti secara terminologi tasawuf, hal ihwal seseorang yang sedang mencapai maqom fana’ ini sangat berbeda dengan pandangan umumnya manusia. Sebab makna memusuhinya seorang yang dalam maqom fana’ atau jadzab di sini merupakan amrun min khowariq lil ‘adat yang di dalamnya terdapat rahasia rahasia tertentu yang berada di luar kendali manusia.)
(Perlu diketahui, Hadrotusyeikh KH Mukhtar Syafa’at Blokagung merupakan kakak kelasnya sewaktu mondok atau (seangkatan dengan Syaikh Mawardi kakak beliau) yang kelak mendirikan Pondok Pesantren Darussalam di kawasan Blokagung Banyuwangi yang hingga saat ini memiliki santri banun dan banat mencapai ribuan).














Saat ini belum ada komentar